TUJUAN KELOMPOK DAN SOSIAL INTERDEPENDENSI

Tugas Mata Kuliah
DINAMIKA KELOMPOK :
“ TUJUAN KELOMPOK DAN SOSIAL INTERDEPENDENSI ”

















Disusun Oleh :
Kelompok 4
Aisyah Humairoh 09.640.001
Fitria Kusuma 09.640.003
Naila Karimah 09.640.008

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini banyak sekali sekumpulan manusia yang membentuk sebuah komunitas / kelmpok yang semakin menjamur di Indonesia. Mulai dari yang Nasionalis hingga Agamis.
Makalah ini menawarkan seluk – beluk Kelompok beserta Tujuan Kelompok. Dan bagaimana kelompok tersebut berinteraksi dan ketergantungan satu sama lain.

1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memgetahui komponen dari kelompok yaitu tujuan kelompok beserta penunjuang keberhasilan kelompok.

1.3 Rumusan Masalah
Permasalahan yang di bahas dalam makalah ini meliputi tujuan kelompok dan sosial interdependensi yang menyentuh beberapa aspek kehidupan.

1.4 Sumber Data
Sumber data  pembuatan makalah ini diperoleh dari studi literatur, yakni buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan yang terkait dan eksplorasi informasi melalui internet.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Tujuan Kelompok
Setiap kelompok, apapun bentuknya tetap memiliki tujuan yang hendak dicapai dari aktivitas kelompok tersebut
Johnson and Johnson mengartikan tujuan kelompok sendiri sebagai suatu keadaan di masa mendatang yng di inginkan oleh anggota-anggota kelompok dan oleh karena itu mereka melakukan berbagai tugas kelompok dalam rangka mencapai keadaan tersebut.
Tujuan kelompok biasanya dirumuskan sebagai perpaduan dari tujuan-tujuan individual dan tujuan-tujuan semua anggota kelompok (Carolina Nitimiharjo & Jusman Iskandar, 1993 : 43)
Menurut Winkel & Sri Hastuti (2004 : 547) tujuan kelompok adalah menunjang perkembangan pribadi dan perkembangan sosial masing-masing anggota kelompok serta meningkatkan mutu kerja sama dalam kelompok guna aneka tujuan yang bermakna bagi para partisipan. Tujuan kelompok dapat diartikan sebagai gambaran yang diharapkan anggota yang akan dicapai oleh kelompok. Tujuan kelompok harus jelas dan diketahui oleh seluruh anggota. Untuk mencapai tujuan kelompok tersebut diperlukan aktivitas bersama oleh para anggota. Hubungan antara tujuan kelompok dengan tujuan anggota bisa :
a) sepenuhnya bertentangan,
b) sebagian bertentangan,
c) netral,
d) searah dan
e) identik.
Dengan demikian bentuk hubungan a tidak menguntungkan dan bentuk d adalah yang paling baik. Tujuan kelompok dirumuskan sebagai perpaduan dari tujuan individual dan tujuan semua anggota kelompok.

2.2 Operational Goal (perencanaan/penetapan)
Dua cara penentapan tujuan kelompok :
1. Dalam pertemuan kelompok, pemimpin kelompok menyampaikan pandangannya tentang tujuan kelompok, kemudian setiap anggota menyampaikan tujuan pribadinya (alasan anggota bergabung ke dalam kelompok). Selanjutnya didiskusikan bersama kelompok, dan memutuskan tujuan kelompok.
2. Pemimpin kelompok mewawancarai setiap anggota kelompok -untuk mengetahui tujuan pribadinyadan menyampaikan pandangannya tentang tujuan kelompok, sebelum pertemuan kelompokyang pertama.Hasil wawancara disampaikan dalam pertemuan kelompok dan didiskusikan untuk menetapkan tujuan kelompok

Operasional goals adalah tujuan dimana mempunyai tahap spesifik prestasi atau keberhasilan dan teridentifikasi. Sedangkan yang sangat abstrak dan ambigu atau membingunkan disebut non-operasional goals.
Sebagai contoh Operasional Goals adalah “Tiga nama kualitas dari member yang bagus”, Maksudnya adalah tujuan dimana anda mendata tiga item dan mereka masuk ke dalam membership maka anda akan tahu tujuan yang telah dicapai.
Dan contoh non-Operasional Goals adalah “Membuat konklusi tentang teori dan empiris dalam menemukan kualitas efectifitas aksi oleh group member” ialah non-Operasional yang mungkin sulit untuk dijelaskan ketikan sebuah tujuan tercapai.

2.3 Peranan Rencana and Tujuan dalam menguntungkan organisasi:
1. Legitimasi, misi sebuah organisasi menggambarkan apa yang dilakukannya dan alasan keberadaan organisasi tersebut. Misi membantu investor, pelanggan, pemasok, dan masyarakat lokal memandang perusahaan secara positif, dan karena itu, menerima keberadaan perusahaan.
2. Sumber motivasi dan komitmen. Tujuan dan rencana memfasilitasi identifikasi karyawan dengan organisasi dan membantu memotivasi mereka dengan mengurangi ketidakpastian serta mengklarifikasi apa yang harus mereka capai.
3. Panduan untuk tindakan. Tujuan dan rencana memberikan arah, keduanya memfokuskan perhatian pada target tertentu dan mengarahkan usaha karyawan menuju hasil yang berguna.
4. Pengambilan keputusan yang rasional. Melalui penentuan tujuan dan perencanaan para manajer belajar tentang apa yang hendak dicapai organisasi.
5. Standar kinerja. Karena tujuan menjelaskan hasil yang diharapkan organisasi, maka tujuan berfungsi sebagai kriteria kinerja.
Adapun Perbandingan Rencana dan Tujuan :
a. Pernyataan Misi
Pernyataan misi merupakan penjelasan yang dinyatakan secara umum tentang skala usaha dan operasi yang membedakan organisasi dengan organisasi yang lain di bidang yang sama. Isi misi tersebut berfokus pada pasar dan pelanggan serta mengidentifikasikan usaha di bidang yang diinginkan.
b. Rencana/tujuan strategis
Kemana arah organisasi ingin melangkah di masa depan disebut tujuan strategis. Hal ini mengarah ke organisasi secara menyeluruh dan bukan menunjuk pada divisi atau departemen tertentu.
Rencana strategis mendefinisikan langkah-langkah nyata yang diambil perusahaan untuk mencapai tujuan. Rencana strategis menggambarkan kegiatan organisasional dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan untuk memenuhi target ini.
c. Rencana/tujuan taktis
Hasil yang ingin dicapai oleh divisi dan departemen utama dalam organisasi disebut sebagai tujuan taktis.
Rencana taktis dibuat untuk membantu pelaksanaan rencana strategis utama dan mencapai bagian tertentu dari strategi organisasi. Rencana taktis cenderung memiliki jangka waktu lebih pendek daripada rencana strategis.
d. Rencana/tujuan operasional
Hasil spesifik yang diharapkan dari departemen, kelompok kerja, dan individu disebut sebagai tujuan operasional. Tujuan ini bersifat terukur dan akurat.
Rencana opersional merupakan alat manajer departemen dalam kegiatan operasional harian dan mingguan. Tujuan dinyatakan dengan angka, dan rencana departemen menggambarkan bagaimana tujuan dapat dicapai.

2.4 Sasaran Kelompok
Yang menjadi sasaran kelompok dalam mensukseskan tujuan kelompok ada beberapa aspek agar tujuan tersebut efektif terlaksana, Antara lain
1. Tujuan tersebut mempunyai makna bagi anggota kelompok, relevan, realistic, dapat diterima dan dapat dicapai
2. Tujuan dapat didefinisikan secara operasional, dapat diukur dan dapat diamati
3. Anggota kelompok mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telah ditetapkan
4. Adanya keseimbangan tugas  tugas dan aktivitas  aktifitas dalam mencapai tujuan kelompok dan individu
5. Terjadinya konflik yang berkaitan dengan tujuan dan tugas – tugas kelompok dapat diselesaikan dengan baik
6. Tujuan tersebut bersifat menarik dan menentang serta mempunyai resiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya
7. Tercapainya tingkat koordinasi di antara anggota – anggota
8. Tersedianya sumber – sumber yang diperlukan untuk melaksanakan tugas – tugas dan tujuan kelompok
9. Adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok
10. Berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok (Carolina Nitimiharjo & Jusman Iskandar, 1993 : 43 - 44)

2.5 Sejarah Sosial Interdependensi
a. Kurt Koffka
Akar historis teori interdependensi sosial dapat ditelusuri ke pergeseran dalam fisika dari mekanistik untuk teori medan (Deutsch, 1968; Deutsch & Krauss, 1965). Pergeseran ini dipengaruhi bidang psikologi, khususnya sekolah yang muncul dari Gestalt Psikologi di Universitas Berlin pada awal 1900-an. Sebagai lapangan menjadi unit analisa dalam fisika, seluruh (atau gestalt) menjadi fokus dari studi tentang persepsi dan perilaku bagi psikolog Gestalt. Gestalt mengemukakan bahwa manusia terutama terkait dengan pengembangan pandangan terorganisir dan berarti dalam dunia mereka dengan mengamati peristiwa sebagai keseluruhan yang terpadu daripada penjumlahan bagian atau properti. Persepsi terjadi di lapangan dan diatur menjadi elemen-elemen saling tergantung yang membentuk sebuah sistem. Dalam bidang psikologis, negara-negara tertentu lebih sederhana dan lebih tertib dari yang lain, dan proses psikologis bertindak untuk membuat keadaan lapangan sebagus kondisi yang berlaku memungkinkan (Deutsch & Krauss). Dengan demikian, keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. Salah satu pendiri dari sekolah Gestalt psikologi, Kurt Koffka (1935), mengusulkan bahwa, mirip dengan bidang psikologis, kelompok keutuhan dinamis di mana saling ketergantungan di antara anggota bisa bervariasi.
b. Kurt Lewin
Membangun prinsip-prinsip psikologi Gestalt dan gagasan Koffka's, Kurt Lewin (1935, 1948) mengusulkan bahwa esensi suatu kelompok adalah saling ketergantungan antara anggota, yang menghasilkan kelompok menjadi keseluruhan yang dinamis sehingga perubahan di negara bagian setiap anggota atau subkelompok perubahan negara dari anggota lain atau subkelompok. Anggota grup dibuat saling bergantung melalui tujuan bersama. Untuk saling ketergantungan ada, harus ada lebih dari satu orang atau badan yang terlibat dan orang-orang atau badan harus dampak satu sama lain, bahwa perubahan di negara satu menyebabkan perubahan di negara bagian yang lain. Dampak ini terjadi dalam situasi yang mendesak, karena perilaku setiap orang ditentukan oleh bagaimana situasi yang dirasakan, bukan oleh faktor-faktor obyektif atau sejarah (misalnya, prinsip contemporaneity). Prinsip contemporaneity menyatakan bahwa satu-satunya penentu perilaku pada saat tertentu adalah sifat orang dan lingkungan psikologis orang tersebut pada waktu itu.. Dengan demikian, perilaku sosial secara inheren konteks dan tidak dapat dipahami di luar ruang hidup saat ini untuk yang dikalibrasi. tindakan Individu 'ditentukan oleh perwakilan mereka dari dunia mereka menganggap mereka bersaing dengan sebagai perilaku mereka terungkap. ruang hidup seseorang adalah dinamis (tidak statis), sehingga, sebagai individu berinteraksi dan peristiwa terjadi, persepsi masing-masing individu dari perubahan situasi. Dalam ruang hidup, perilaku masyarakat yang didorong oleh negara-negara dari ketegangan yang timbul karena mereka melihat tujuan yang diinginkan. Ini adalah ketegangan yang memotivasi gerakan menuju pencapaian tujuan.. Persepsi tujuan bersama dalam hubungannya dengan motivasi bersama untuk mencapainya adalah sumber dari saling ketergantungan antara anggota kelompok.
c. Deutsch
Deutsch (1949a, 1962) memperpanjang teori Lewin dengan meneliti bagaimana sistem ketergantungan orang-orang yang berbeda dapat saling berhubungan. Ia dikonsep dua jenis saling ketergantungan sosial - positif dan negatif saling ketergantungan positif ada ketika ada korelasi positif antara pencapaian tujuan individu,  individu merasa bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka jika, dan hanya jika, individu-individu lain dengan siapa mereka kooperatif terkait mencapai tujuan mereka. Negatif ada ketika ada korelasi negatif antara pencapaian tujuan individu.
2.6 Definisi Sosial Interdependensi
Sosial Interdependensi sendiri jika diartikan adalah saling ketergantungan dimana individu memiliki sasaran yang sama dan hasil masing – masing individu dipengaruhi oleh tindakan lain. Dapat pula dijelaskan sebagai proses bagaimana individuberinteraksi satu sama lain dengan mendapatkan hasil.
Tabel Teori Sosial Interdependensi
Proses Kooperatif Kompetitif Individualistik
Ketergantungan Positif Negatif Tidak ada
Hubungan Interaksi Promotif Opposisional Tidak ada
Hasil 1 Tinggi kemungkina berprestasi Rendah kemungkinan berprestasi Rendah kemungkinan berprestasi
Hasil 2 Relasi Positif Relasi negative Tidak ada relationship
Hasil 3 Kesehatan Psikologi Penyakit  Psikologi Patologi Psikologi


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Tujuan kelompok dirumuskan sebagai perpaduan dari tujuan individual dan tujuan semua anggota kelompok.
2. Terdapat dua cara dalam menetapkan/merencanakan tujuan kelompok :
1. Dalam pertemuan kelompok, pemimpin kelompok menyampaikan pandangannya tentang tujuan kelompok, kemudian setiap anggota menyampaikan tujuan pribadinya (alasan anggota bergabung ke dalam kelompok). Selanjutnya didiskusikan bersama kelompok, dan memutuskan tujuan kelompok.
2. Pemimpin kelompok mewawancarai setiap anggota kelompok -untuk mengetahui tujuan pribadinyadan menyampaikan pandangannya tentang tujuan kelompok, sebelum pertemuan kelompokyang pertama.Hasil wawancara disampaikan dalam pertemuan kelompok dan didiskusikan untuk menetapkan tujuan kelompok
3. Beberpa aspek penujang keberhasiln tujuan kelompok antara lain mempunyai makna bagi anggota kelompok, relevan, realistic, dapat dipahami dan dapat dicapai. Adapun aspek itu dapat di definisikan secara operasional, dapat diukur dan dapat dipahami, dst
4. Sosial Interdependensi di prakarsai oleh pakar psikologi gestalt, Kurt Koffka dan Kurt Lewin. Serta Morton Deutsch.
5. Sosial Interdependensi sendiri adalah saling ketergantungan dimana individu memiliki sasaran yang sama dan hasil masing – masing individu dipengaruhi oleh tindakan lain.
6. Teori Sosial Interdependensi dibagi menjadi tiga, Yaitu : Kooperatif, Kompetitif dan Individualistik.

Daftar Pustaka

http://belajarpsikologi.com/tujuan-bimbingan-kelompok
http://andinia-psikelompok.blogspot.com/2010/11/tujuan-kelompok.html
http://andinia-psikelompok.blogspot.com/2010/11/penetapan-tujuan-kelompok.html
http://andinia-psikelompok.blogspot.com/2010/11/definisi-tujuan.html
http://ojimori.com/peranan-plans-and-goals-dalam-organisasi.html


Postingan terkait: