Pandangan Tentang Pembelajaran

Secara  prinsip,  kegiatan  pembelajaran  merupakan  proses  pendidikan yang    memberikan    kesempatan    kepada    peserta    didik    untuk mengembangkan  potensi  mereka  menjadi  kemampuan  yang  semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan
yang   diperlukan   dirinya   untuk   hidup   dan   untuk   bermasyarakat, berbangsa,   serta    berkontribusi   pada   kesejahteraan   hidup   umat manusia.  Oleh  karena  itu,  kegiatan  pembelajaran  diarahkan  untuk memberdayakan  semua potensi   peserta   didik  menjadi   kompetensi yang diharapkan.
Lebih    lanjut,    strategi    pembelajaran    harus    diarahkan    untuk memfasilitasi   pencapaian   kompetensi   yang   telah   dirancang   dalam dokumen  kurikulum  agar  setiap  individu  mampu  menjadi  pebelajar mandiri  sepanjang  hayat.  dan  yang  pada  gilirannya  mereka  menjadi komponen  penting  untuk  mewujudkan  masyarakat  belajar.  Kualitas lain  yang   dikembangkan  kurikulum  dan  harus  terealisasikan  dalam proses pembelajaran antara lain kreativitas, kemandirian, kerja sama, solidaritas,  kepemimpinan,  empati,  toleransi  dan  kecakapan  hidup peserta  didik  guna  membentuk  watak  serta  meningkatkan  peradaban dan martabat bangsa.
Untuk   mencapai   kualitas   yang   telah   dirancang   dalam   dokumen kurikulum,  kegiatan   pembelajaran  perlu  menggunakan  prinsip  yang:
  1. berpusat   pada   peserta   didik,  
  2. mengembangkan   kreativitas peserta didik,
  3. menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang,
  4. bermuatan  nilai,  etika,  estetika,  logika,  dan  kinestetika,  dan 
  5. menyediakan  pengalaman  belajar  yang  beragam  melalui  penerapan berbagai   strategi   dan   metode   pembelajaran   yang   menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.
Di  dalam  pembelajaran,  peserta  didik  didorong  untuk  menemukan  sendiri   dan  mentransformasikan   informasi   kompleks,   mengecek  informasi   baru   dengan   yang   sudah   ada   dalam   ingatannya,   dan melakukan  pengembangan  menjadi  informasi  atau  kemampuan  yang sesuai  dengan  lingkungan  dan  jaman  tempat  dan  waktu  ia  hidup.  Kurikulum   2013  menganut   pandangan  dasar  bahwa   pengetahuan tidak  dapat   dipindahkan  begitu   saja   dari  guru   ke   peserta   didik.  Peserta  didik  adalah subjek  yang  memiliki  kemampuan  untuk  secara
aktif    mencari,    mengolah,    mengkonstruksi,    dan    menggunakan pengetahuan.   Untuk   itu   pembelajaran   harus   berkenaan   dengan kesempatan     yang     diberikan     kepada     peserta     didik untuk mengkonstruksi  pengetahuan  dalam  proses  kognitifnya.  Agar  benar-benar  memahami  dan  dapat  menerapkan  pengetahuan,  peserta  didik perlu  didorong   untuk   bekerja  memecahkan   masalah,   menemukan segala  sesuatu  untuk  dirinya,  dan  berupaya  keras  mewujudkan  ide- idenya.
Guru     memberikan     kemudahan     untuk     proses     ini,     dengan  mengembangkan  suasana  belajar  yang  memberi  kesempatan  peserta didik untuk menemukan, menerapkan  ide-ide mereka sendiri, menjadi  sadar  dan  secara  sadar  menggunakan  strategi  mereka  sendiri  untuk belajar.  Guru  mengembangkan  kesempatan  belajar  kepada  peserta didik   untuk   meniti   anak   tangga   yang   membawa   peserta   didik kepemahaman   yang   lebih   tinggi,   yang   semula   dilakukan   dengan bantuan  guru  tetapi  semakin  lama  semakin  mandiri.  Bagi  peserta didik,  pembelajaran  harus  bergeser  dari  “diberi  tahu”  menjadi  “aktif mencari tahu”.
Di  dalam  pembelajaran,  peserta  didik  mengkonstruksi  pengetahuan bagi dirinya. Bagi peserta didik, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis,  berkembang  dari  sederhana  menuju  kompleks,  dari  ruang lingkup  dirinya  dan  di  sekitarnya  menuju  ruang  lingkup  yang  lebih
luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak.  Sebagai manusia yang sedang berkembang, peserta  didik telah, sedang, dan/atau akan mengalami   empat   tahap   perkembangan   intelektual,   yakni   sensori motor,  pra-operasional,  operasional  konkrit,  dan  operasional  formal. Secara  umum  jenjang  pertama  terjadi  sebelum  seseorang  memasuki usia   sekolah,   jejang   kedua   dan   ketiga   dimulai   ketika   seseorang menjadi  peserta didik di jenjang pendidikan dasar, sedangkan jenjang keempat dimulai sejak tahun kelima dan keenam sekolah dasar.
Proses  pembelajaran  terjadi  secara  internal  pada  diri  peserta  didik. Proses  tersebut  mungkin  saja  terjadi  akibat  dari  stimulus  luar  yang  diberikan  guru,  teman,  lingkungan.  Proses  tersebut  mungkin  pula terjadi  akibat  dari  stimulus  dalam  diri  peserta  didik  yang  terutama disebabkan  oleh  rasa  ingin  tahu.  Proses  pembelajaran  dapat  pula terjadi sebagai gabungan dari stimulus luar  dan dalam. Dalam  proses pembelajaran,  guru  perlu  mengembangkan  kedua  stimulus  pada  diri
setiap peserta didik.
Di dalam pembelajaran, peserta  didik difasilitasi untuk  terlibat secara aktif   mengembangkan   potensi   dirinya   menjadi   kompetensi.   Guru menyediakan pengalaman belajar bagi  peserta didik untuk melakukan  berbagai   kegiatan   yang   memungkinkan   mereka   mengembangkan  potensi  yang  dimiliki  mereka  menjadi  kompetensi  yang  ditetapkan  dalam  dokumen  kurikulum  atau  lebih.  Pengalaman  belajar  tersebut semakin  lama  semakin  meningkat  menjadi  kebiasaan  belajar  mandiri dan ajeg sebagai salah satu dasar untuk belajar sepanjang hayat. Dalam   suatu  kegiatan   belajar  dapat   terjadi  pengembangan   sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam kombinasi dan penekanan yang bervariasi. Setiap  kegiatan belajar memiliki kombinasi dan penekanan yang berbeda  dari kegiatan  belajar  lain  tergantung dari  sifat   muatan yang   dipelajari.   Meskipun   demikian,   pengetahuan   selalu   menjadi unsur penggerak untuk pengembangan kemampuan lain. 
sumber : http://perangkatguruindonesia.blogspot.com/search/label/silabus

Postingan terkait: