desain kasus

Aisyah humairoh
(09.640.001)

Catatan Penutup
Dalam bagian penutup dari metode eksperimental , ini menjadi bukan hanya catatan bahwa tidak semua terpikat dengan pendekatan tradisional ini. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu, Cattel (1965) mengkritik yang mereka sebut strategi penelitian bivariate.. Ini adalah method yang menyatakan menuju jalan Pavlov dan Wundt di mana hanya ada dua variable yang dipelajari dalam sekali. Investigasi manipulasi pada variable independen kemudian di observasi, efek pada variable dependen ini sebagai contoh experiment memasukkan partisipan yang percaya bahwa mmereka tak cukup personal dalam mengontrol lebih dari serangan kejut listrikvariabel dependen. Pertanyaannya adalah, apa yang terjadi pada partisipan yang cemas pada ukuran beberapa orang oleh respon kulit battere listrik yang merupakan variable tergantung. Jika terfokus pada kecemasan, mungkin akan menjadi kebutuhan untuk membawa keluar ribuan bivariate studi determinan bagaiman seseorang menjadi cemas. Para experimeneter harus merubah ukurn dari kecemasan, stimulus natural atau alami dan kehadiran pre-existing sift kepribadian dimana terdapat kemungkinan dari respon partisipan alami. Jika experimenter/peneliti merubah satu kondisi pada wktu didalam studi setelah studi, mereka akan meninggalkan sedikit demi sedikit pandangan “human being/manusia”. Mengambil hasil dari studi bivariate bersama-sama lagi. Dan karena studi ini adalah melihat pada kecemasan di dalam isolasi dari segala variable, seperti kemampuan dan tuntutan penyesuaian hasil tawaran yang tidak umum adalah bagaimana variable ini mungkin akibat dari kecemasan.
Sebagai konsekuensi, beberapa mempunyai penyokong pengguna dari bagian strategi multivariasi. Disini, para penguji menggunakan macam – macam dari pengukuran dalam orang yang sama tetapi tidak menggunakan atau mendesak banyak cara pengontrolan. Merekamungkin menggunakan pertanyaan data. Riwayat hidup, observasi, dll. Seperti data dapat menjadi korelasi dan analisis factor. Karena metode ini dapat focus dalam peristiwa fenomena natural dan dapat disetujui dengan banyak variable simulasi. Banyak yang menganggap ini seperti strategi superior. Bagaimanapun juga metode ini, seperti pendekatan korelasi lainnya juga mempunyai berbagai kekurangan (Phares, 1991)

Design Kasus Tunggal
Adalah sebuah hasil pertumbuhan atau perkembangan dari perilaku dan pendekatan operant. Mereka menghasilkan kesamaan dari kedua eksperimen dan metode studi kasus. Sebagai contoh, para penguji mengukur suatu perilaku subjek di bawah beberapa kondisi dan pada umumnya bekerjalah metode yang berhubungan dengan tekhnik mental. Tapi fokusnya adalah respon dari salah satu prtisipant. Seperti penelitian selalu diawali dengan membentuk atau menentukan garis besar atau baseline. Disini catatan dibuat dari perilaku participant yang lebih dulu atau mendahulukan beberapa interfensi. Sebagai contoh, angka dari serangan kecemasan per minggu, setelah garis dasar dapat dipercaya pengenalannya. Efeknya dari interfensi ini adalah ketikan penentuan determinan yang menggabungkan baseline level pada perilaku dengan post-interfensi level. Design kasus tunggal selalu digunakan untuk studi efektifitas dari terapi metode.
Design kasus tunggal membolehkan penguji untuk menegakkan hubungan sebab-akibat. Lebih dari itu, Mereka menyediakan metode dalam studi klinik perilaku (terlebih metode terapi). Itu tidak dapat menyembunyikan treatment dalam penempatan penyertaan partisipan oleh control kelompok atau daftar tunggu. Beberapa berargumen bahwa seperti prosedur pengontrolan, meskipun mepresentasikn ulang. Sains, adalah sebenarnya tidak pantas karena mereka mungkin mencabut atau menghilangkan seseorang dari harapan untuk pembebasan. Meskipun terapi digunakan mungkin untuk tidak mebuktikan dan meskipun beberapa menyatakan hal itu. Perhatian ini darikemeahan yang bagus dari beberapa orang, Para ilmuan/peneliti sains harus menghilangkan sedikit kemungkinan mengimprovisasi-ketakutan terhadap etika masih menginta di baliknya.

The ABAB Design. Design ABAB mengizinkan pengukuran dari efektifitas oleh system observasi dalam mengubah perilaku participant sebagai treatment dan non-treatmen kondisi pengganti. Ini dinamakan “ABAB Design” karena dasar dari inisial periode (A) mengikuti treatmen periode (B), kembali pada dasar (A) dan kemudian treatmen kedua periode (B).
Sebagai ilustrasi dari “ABAB singlecase” adalah study dari Robbie (Hall, Lund dan Jackson, 1986). Robbie mempunyai 3 tingkatan dimana mendapati beberapa kekacauan did lam kelas. Sekitar 75% dalam waktu iti dihabiskna untuk tertawa, saling melempar benda dan menjadi menyusahkan waktu istirahat (25%), dia belajar baseline presentase ini dari studi waktu menunjukkan pada gambar 4-5. Selama treatment periode perta,a (Reinforcement I), Guru membayar lebih perhatian untuk Robbie, dan study perilakunya meningkta selanjutnya. Selama pemutaran periode, Guru kembali pada level yang terlebih dulu untunya dalam memperhatikan Robbie, Dan study perilakunya kembali tentang level baseline dimana treatment menjadi pengajuan lhi (Reinforcement II). Perilakunya sekali lagi di improvisasi pemutaran periode disertai kemungkinan investigator untuk me-reka ulang penyebab hubungan di antara perilaku guru dan perilaku Robbie.
Suatu kesulitan dengan prosedur ABAB adalah pengambilan kembali treatment yang dapat menyikapi problem etika. Bagaimanapun, keseriusan dari issu bergantung pada keadaan spesifik sekitar yang menyertai.

Multiple Baseline Design. Dalam sebuah kasus, ini tidak mungkin menggunakan pembalikkan periode, seperti yang kita catat. Disana mungkin banyak ketidakleluasaan atau paksaan etika. Juga, di setting penilitian klinik, terapis mungkin menjadi enggan atau tidak mau di ajak untuk mendapatkan situasi experiment ulang klien mereka bahwa mengembalikan lagi terdapat bermacam-macam perilaku yang mereka cari atau lihat/di cabut. Seperti pada studi kasus, investigators mungkin menggunakan multiple baseline design. Disini, dua atau lebih perilaku di pilih untuk di analisis. Mungkin institusional pasien mempunyai beberapa problem yang dapat di responsible. Dia tidak dapat menjaga kebersihan ruangan ini, jauh dalam (…low) kebaikan kesehatan kepribadian, atau tidak dapat menujukkan pada waktu untuk penempatan kerja. Baseline data dikumpulkan dari perilakunya dalam kedua setting kerja kepribadian. Selanjutnya, dengan segera reward di perkenalkan kapanpun dia mempunyai respon pada personal setting namun tidak pada setting waktu. Kemudian setelah dilakukan pada periode waktu yang telah di tentukan ukuran perilaku di kedua setting. Sekali lagi dikumpulkan. Fase akhir penyertaan reward untuk perilaku responsible di kedua setting. Jika perilaku responsible meningkat pada personal setting menyertai atau mengikuti reward tapi tidak pada setting kerja dimana tidak ada reward, Itu mungkin menjadi mungkin saat beberapa ketidaktahuan dan tidak terkontrolnya factor lainnya kemudian reward menjadi operative. Namun jika reward kemudian ditunjukkan untuk mempertinggi perilaku responsible di setting kerja juga, Inii seperti ketidaksukaan yang sangat terhadap beberapa factor lainnya kemudian reward dimasukkan. Kegunaan dual baseline memberikan peningkatan lepercayaan diri investigator pada manipulasi mereka.
Study oleh Moras, Toffer & Barlow (1993) mencontohkan variasi bermacam – macam baseline design. Study mereka penting atau patut diperhatikan untuk berbagai alasan. Pertama, mereka mengaplikasi metodologi single-case untuk treatment bahwa perilaku tidak terlalu penting (tidak seperti kebanyakan aplikasi dari metodologi single-case). Kedua, mereka mentargetkan kondisi klinik bahwa umumnya penganalisasian penyakit hidup bersama. Kecemasan dan depresi  mayor – sangat komplek karena banyak sekali gejala. Akhirnya mereka mengadakan tes hipotesis bahwa tiap form treatment digunakan untuk mengkombinasikan treatment (treatment control kecemasan dan psikoterapi interpersonal untuk depresi) dapat berakibat spesifik pada gejala dimana treatment dalam pengembangan original.
Kotak 4-3 menampilkan Moras dkk (1993) menjelaskan dalam kasus kedua, dimana pria dalam usia 30 – an penderita dari keduanya penggeneralisasikan penyakit kecemasan dan depresi mayor, pada nilai mingguannya dalam laporan diri mengukur kecemasan dan depresi seluruhnya di treatment. Seperti yang dapat kita lihat kasus kedua level dari kecemasannya (BAI scores) dan depresi (BDI Scores) terjadi peningkatan dan klinis yang signifikan sebelum treatmen dimulai dalam baseline minggu 1 dan 2. Treatmen kontrol interview (asmt). Selanjutnya psikoterapi untuk interpersonal depresi (IDT) beroperasi dalam enam sesi, mengikuti assesment interview lainnya.
Beberapa gambaran dari hasilkasus kedua dapat diperhatikan. Pertama, angka kecemasannya dapat turun secara signifikan di bawahkursus ACT. Bagaimanapun juga mempunyai nilai depresi. Lebih lanjut keduanya, depresi dan angka kecemasan muncul menurun (meskipun tidak dramatis) selama fase IPT treatment. Moras dkk menghasilkan kombinasi ini dari treatment (ACT dan IPT) terlihat efikasi potensial untuk pasien dengan penggeneralisasian penyakit kecemasan dan depresi mayor. Bagaimanapun, bertentangan dengan hipotesis original, tidak dapat dibuktikan untuk pembedaan dan dampak spesifikasi dari ACT dalam gejala kecemasan dan IPT dalam gejala depresif mendapatkan perolehan.
Sebagai contoh ilustrasi bagaiman dengan subject tunggal dapat menjadi dokumen treatment efikasi sendiri atau tunggal atau kombinasi secara umum terdapat persamaan kondisi klinis, kedepannya, Moras dkk menggunakan variasi multiple baseline design, dimana menggunakan tes hipotesis spesifik dengan penghargaan dalam efek treatmen.
Tentu saja semua single subject design ini didefinisikan oleh satu orang. Dapatkah kita menggeneralisasikan apa yang di dapat ditunjukkan menjadi nyata dalam satu orang untuk seluruh populasi?. Dalam metode studi kasus, validitas external mempunyai hasil atau mendapat hasil yang dicapai untuk menggeneralisasikan tentang kesemuanya dapat menjadi masalah. Tapi selama kita nyaman pada satu orang yang spesifik atau mencari bukti – bukti atau petunjuk yang dapat memberi harapan besar pada program berikutnya untuk menginisiatif studiexperimental tradisional (full-blown) metode besar segera ada.


Mixed design
Ekspeimen dan tekhnik korelasiterkadang terkombinasi dalam mixed design. Disini partisipan yang dibagi menjadi ke dalam populasi spesifik (sebagai contoh, schizophrenic versus normal) menempatkan kelompok pada tiap kondisi experimen. Pada jalan ini, variable seperti pasien laki-laki dengan umur 30-an/paruh baya yang mempunyai 3 anak (dari umur 4 hingga 12 tahun). Dia bekerja pada posisi semi-skill. Komplainnya “mudah putus asa dan banyak menangis/bersedih”, “Ketidak pedulian etika”, merasa nervous dan merasa seperti lari dari tugas.Ketika ditanya tentang kehidupan hubungannya, dia berkata bahwa ia dan istrinya “tampaknya cara mereka terpisah”. Bagaimanapun juga, Dia kemudian dengan cepat berstatement dengan berkata bahwa mereka tidak terlihat menjadi bagian pertumbuhan, Meskipun mereka terlihat lebih dekat tapi lebih mandiri. Dasar diagnosis berdasarkan dalam dua struktur independen diagnosis wawancara co-prinsipal episode depresi mayor (berulang, moderate) 5 and GAD 5.

Di bawah ini adalah penjumlahan nilai mingguan oleh kasus ke dua dalam “Beck Anxiety Inventor (BAI)” dan “Beck Depression Inventory (BDI)”

Davison dan Naele (1998) menyediakan sebuah hipotesis hebat, seperti contoh adalah bagaimana menggabungkan design kerja menduga. Kita memutuskan untuk menginvestigasikan efikasi dari 3 forms therapy (manipulasi experiment). Kita mengerjakan ini dengan mengidentifikasikan pasien psikiatrik dimana dapat menjadi bagian di dalam dua kelompok pada basis dari kerasnya penyakit mereka (variable klasifikasi). Apakah efektif dalam treatmen perubahan dengan beberapa penyakit?. Hasil dari penelitian hipotesis ditunjukkan pada gambar 4-6. Gambar 4-6(b) menyajikan pemerolehan data ketika pasien menjadi bagian dalam 2 kelompok di bawah beberapa penyakit mereka. Gambar 4-6(a) menunjukkan bagaiman kebingungan dapat kita jadikan pasien belum dibagi dalam dua kelompok. Ketika semua pasien mengkombinasi, kita menemukan bahwa dari treatmen 3 menghasilkan improvisasi yang besar dan kita memastikan kesalahan untuk percaya pada treatment yang terbaik. Tapi ketika kita menganalisis berdasarkan data beberap orang berpenyakit. Treatment 3tidak melebihkan sati dari beberapa group dalam patients. Malahan, dalam gambar 4-6(b) menunjukkan untuk pasien dengan “Masalah yang parah”, treatment 2 akan menunjukkan lebih baik.



Di buku sebelumnya, ini akan terlihat nyata bahwa disana tidak ada “Terapi Terbaik” untuk semua masalah dan semua orang. Disana hanya ada treatment bahwa beberapa dari efektivitas mereka untuk bermacam-macam dari problem psikologi dan keanekaragaman manusia. Mixed design dapat menolong kita melihat bahwa yang terbaik. Tentu saja kita seharusnya tidak lupa bahwa mixed design salah satu factor (sebagai contoh penyakit kronis) tidak dapat dimanipulasi, dan peningkatan ini mendiskusikan bermacam-macam problem lebih awal dalam kasus metode korelasional.

Postingan terkait: