Kompetensi

1. Usman (1994:1) mengemukakan kompentensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif.
McAhsan (1981:45), sebagaimana dikutip oleh Mulyasa (2003:38) mengemukakan bahwa kompetensi: “…is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the extent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors”. Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya.
Pengertian Kompetensi
Sunday, April 19, 2009 12:15:57 PM
kompetensi, pengertian
Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan “Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”.

Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa pengertian kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.
Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari kompetensi yaitu:

Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing.

Dari definisi di atas kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.

Finch & Crunkilton (1979:222), sebagaimana dikutip oleh Mulyasa (2003:38) mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan.Sofo (1999:123) mengemukakan “A competency is composed of skill, knowledge, and attitude, but in particular the consistent applications of those skill, knowledge, and attitude to the standard of performance required in employment”. Dengan kata lain kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan tersebut dalam pekerjaan.
Robbins (2001:37) menyebut kompetensi sebagai ability, yaitu kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kemampuan individu dibentuk oleh dua faktor, yaitu faktor kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang di perlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan, dan keterampilan.

Spencer & Spencer (1993:9) mengatakan “Competency is underlying characteristic of an individual that is causally related to criterion-reference effective and/or superior performance in a job or situation”. Jadi kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang berkaitan dengan kinerja berkriteria efektif dan atau unggul dalam suatu pekerjaan dan situasi tertentu. Selanjutnya Spencer & Spencer menjelaskan, kompetensi dikatakan underlying characteristic karena karakteristik merupakan bagian yang mendalam dan melekat pada kepribadian seseorang dan dapat memprediksi berbagai situasi dan jenis pekerjaan. Dikatakan causally related, karena kompetensi menyebabkan atau memprediksi perilaku dan kinerja. Dikatakan criterion-referenced, karena kompetensi itu benar-benar memprediksi siapa-siapa saja yang kinerjanya baik atau buruk, berdasarkan kriteria atau standar tertentu.
Muhaimin (2004:151) menjelaskan kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat intelegen harus ditunjukan sebagai kemahiran, ketetapan, dan keberhasilan bertindak. Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika.
Depdiknas (2004:7) merumuskan definisi kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.Menurut Syah (2000:230), “kompetensi” adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Selanjutnya masih menurut Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak.
http://haripambudi.blogspot.com/2009/09/kompetensi-guru.html
Cut Zurnali (2010) dalam bukunya yang berjudul "Learning Organization, Competency, Organizational Commitment, dan Customer Orientation : Knowledge Worker - Kerangka Riset Manajemen Sumberdaya Manusia di Masa Depan" merangkum beberapa pengertian kompetensi dari pakar. Berikut akan disajikan definisi kompetensi :
1. Richard E. Boyatzis (2008) mengemukakan : kompetensi merupakan karakteristik-karakteristik dasar seseorang yang menuntun atau menyebabkan keefektifan dan kinerja yang menonjol.
2. Menurut Glossary Our Workforce Matters (Sinnott. et.al: 2002), kompetensi adalah karakteristik dari karyawan yang mengkontribusikan kinerja pekerjaan yang berhasil dan pencapaian hasil organisasi. Hal ini mencakup pengetahuan, keahlian dan kemampuan ditambah karakteristik lain seperti nilai, motivasi, inisiatif dan control diri.
3. Le Boterf dalam Denise et al (2007) menyatakan : kompetensi merupakan sesuatu yang abstrak; hal ini tidak menunjukkan adanya material dan ketergantungan pada kegiatan kecakapan individu. Jadi kompetensi bukan keadaan tapi lebih pada hasil kegiatan dari pengkombinasiaan sumberdaya personal (pengetahuan, kemampuan, kualitas, pengalaman, kapasitas kognitif, sumberdaya emosional, dan lainnya) dan sumberdaya lingkungan (teknologi, database, buku, jaringan hubungan, dan lainnya).
4. Menurut Sinnott et.al (2002), kompetensi adalah alat pengkritisi dalam tugas kerja dan pergantian perencanaan. Di tingkat minimum, kompetensi berarti: a) mengenali kapabilitas, sikap dan atribut yang dibutuhkan untuk memenuhi staf saat ini dan dimasa depan sebagai prioritas organisasi dan pertukaran strategis dan b) memfokuskan pada usaha pengembangan karyawan untuk menghilangkan kesenjangan antara kapabilitas yang dibutuhkan dengan yang tersedia.

Dari definisi-definisi yang dikemukakan para ahli tersebut, banyak ditemukan dalam penelitian-penelitian disertasi dan tesis menggunakan acuan pada definisi kompetensi yang dikemukakan oleh Richard E. Boyatzis, yang menyatakan kompetensi merupakan karakteristik-karakteristik dasar seseorang yang menuntun atau menyebabkan keefektifan dan kinerja yang menonjol. Dan tidak sedikit pula penelitian-penelitian kompetensi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di dunia untuk melihat kompetensi para pekerja/karyawan-nya yang menggunakan pendapat Boyatzis ini. Menurut Cut Zurnali (2010), hal ini dengan pertimbangan bahwa para karyawan yang memiliki kompetensi tidak akan menghasilkan perilaku yang berorientasi pada pelanggan yang optimal jika pekerja tidak diberikan kebebasan, keleluasaan, dan kemandirian dalam mengendalikan pekerjaannya baik yang mencakup keputusan inti berkenaan dengan pekerjaan, kerangka waktu, maupun isi yang berhubungan dengan substansi keputusan.

Menurut Yodhia Antariksa (2007), secara general, kompetensi sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kombinasi antara ketrampilan (skill), atribut personal, dan pengetahuan (knowledge) yang tercermin melalui perilaku kinerja (job behavior) yang dapat diamati, diukur dan dievaluasi. Dalam sejumlah literatur, kompetensi sering dibedakan menjadi dua tipe, yakni soft competency atau jenis kompetensi yang berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengelola proses pekerjaan, hubungan antar manusia serta membangun interaksi dengan orang lain. Contoh soft competency adalah: leadership, communication, interpersonal relation, dll. Tipe kompetensi yang kedua sering disebut hard competency atau jenis kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan fungsional atau teknis suatu pekerjaan. Dengan kata lain, kompetensi ini berkaitan dengan seluk beluk teknis yang berkaitan dengan pekerjaan yang ditekuni. Contoh hard competency adalah : electrical engineering, marketing research, financial analysis, manpower planning, dll.
Centerpoint.co.id
DEFINISI KOMPETENSI

Kalau kita baca literatur, tidak (belum) ada definisi kompetensi yang disetujui secara universal, tergantung dari asal definisi itu dibuat, yaitu :
1. Berdasarkan policy pemerintah
2. Keinginan dunia kerja
3. Hasil riset.
Tahun 1960, konsep kompetensi mulai diterapkan di Amerika Serikat untuk program pendidikan guru. Pada tahun 1970, dikembangkan untuk program pendidikan profesional lainnya, untuk program pelatihan kejuruan di Inggris dan Jerman pada tahun 1980 serta untuk pelatihan kejuruan dan pengenalan keterampilan profesional di Australia pada tahun 1990. Konsep kompetensi mulai menjadi trend dan banyak dibicarakan sejak tahun 1993 dan saat ini menjadi sangat populer terutama di lingkungan perusahaan multinasional dan nasional yang modern.
1. UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas penjelasan pasal 35 (1):
Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, Pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standard nasional yang telah disepakati
2. UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan : pasal 1 (10)
Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan
3.  Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 46A Tahun 2003 Tanggal 21 Nopember 2003
Kompetensi adalah kemampuan dan karak-teristik yang dimiliki seorang Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yg diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara professional, efektif, dan efisien.
4. Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan  :
Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 101 Tahun 2000, Tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan pegawai Negeri Sipil
Kompetensi adalah kemampuan dan karateristik yang dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, ketrampilan, dan sikap – prilakuyang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya
6. JGN Consulting Denver, USA
A  competency  refers to  an  individual’s demonstrated  knowledge,  skills or abilities (KSA’S)   perform   to   a  specific  standard.   Competencies   are observable, behavioral acts that require a combination  of KSAS  to execute. They are demonstrated  in  a job  context  and as such, are influenced  by an organization’s culture and  work  environment. In  other words,  competencies consist of a combination of knowledge, skill and abilities that are necessary in order to perform a major task or function in the work setting
(Kompetensi mengacu pada individu menunjukkan pengetahuan, keterampilan atau kemampuan (KSA’S) melaksanakan standar tertentu. Kompetensi yang diamati, perilaku tindakan yang memerlukan kombinasi KSAS untuk melaksanakan. Mereka menunjukkan dalam konteks pekerjaan dan dengan demikian, dipengaruhi oleh budaya organisasi dan lingkungan kerja. Dengan kata lain, kompetensi terdiri dari kombinasi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas atau fungsi utama di lingkungan kerja)
7. Competency Standards Body Canberra 1994
Competency comprises knowledge and skills and the consistent application of that knowledge and  skills  to  the  standard  of  performance  required  in employment
(Kompetensi terdiri dari pengetahuan dan keterampilan dan penerapan yang konsisten bahwa pengetahuan dan keterampilan dengan standar kinerja yang diperlukan dalam pekerjaan)
8. A.D. Lucia & R. Lepsinger/Preface xiii
Competency models that identity  the  skills, knowledge,  and  characteristics needed to perform a job…
(Kompetensi model-model yang identitas keterampilan, pengetahuan, dan karakteristik yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan…)
9. Association K.U. Leuven
Mendefinisikan bahwa pengertian kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.
10.    Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari kompetensi yaitu:
Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing.
(Kompetensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan tugas secara memadai, tugas atau peran. Mengintegrasikan kompetensi pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai pribadi dan sikap. Kompetensi didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan dan diperoleh melalui pengalaman kerja dan belajar dengan melakukan)
Definisi Kompetensi
December 31st, 2009 • Related • Filed Under
- Menurut Purwadarminta dalam kamus umum Bahasa Indonesia “Kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal.
- Kompetensi yang ada dalam Bahasa Inggris adalah competency atau competence merupakan kata benda, menurut William D. Powell dalam aplikasi Linguist Version 1.0 (1997) diartikan: 1) kecakapan, kemampuan, kompetensi 2) wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu, dan tangkas.
- Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan “Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”.
- UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas penjelasan pasal 35 (1):
“Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standard nasional yang telah disepakati”
- UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan: pasal 1 (10) “Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan”
- Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 Tahun 2004, tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjelaskan tentang sertifikasi kompetensi kerja sebagai suatu proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistimatis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi kerja nasional Indonesia dan atau Internasional
- Pengertian Competency Based Training (CBT)” Sebuah pendekatan pada pelatihan yang menekankan pada apa yang seorang individu dapat mendemontrasikan: pengetahuannya, ketrampilan serta sikap profesional, di tempat kerja, sesuai dengan standard Industri sebagai hasil dari training”
- Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) “Kompetensi adalah pernyataan tentang bagaimana sesorang dapat mendemontrasikan: keterampilan, pengetahuan dan sikapnya di tempat kerja sesuai dengan standar Industri atau sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh tempat kerja (industri).
- Definisi kompetensi yang dipahami selama ini adalah mencakup penguasaan terhadap 3 jenis kemampuan, yaitu: pengetahuan (knowledge, science), keterampilan teknis (skill, teknologi) dan sikap perilaku (attitude).
- kompetensi haruslah dimaknai kembali sebagai pengembangan integritas pribadi yang dilandasi iman yang kuat sebagai fondasinya(SQ), baru kemudian dapat membangun hubungan yang tulus/ikhlas dengan sesama (EQ), dan akhirnya barulah penguasaan IPTEK melalui IQ bisa bermanfaat untuk membangun bisnis yang etis dalam rangka mencapai tujuan kemakmuran bersama bagi para stakeholders, tidak hanya untuk kepentingan ego pribadi.
- Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa pengertian Kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.
- Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari Kompetensi yaitu:
Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing “ Kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.
- Definisi kompetensi diuraikan oleh Steven Moulton, SPHR, dalam tulisannya di SHRM berjudul “Competency Development, Integration and Application”. Bagi organisasi, katanya, kompetensi bisa didefinisikan sebagai kemampuan teknikal yang membedakan perusahaan dengan pesaing. Sementara bagi individu, kompetensi bisa didefinisikan sebagai kombinasi pengetahuan, keahlian, dan kebisaan yang mempengaruhi kinerja kerjanya. Ia mengaku, definisi kompetensi bisa sangat beragam dan berbeda dari satu orang ke orang lainnya.
- Drs. Budiman Sanusi Mpsi, Direktur Psikologi dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (PPSDM), mengatakan Kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan sikap yang ditampilkan oleh orang-orang yang sukses/berhasil dalam mengerjakan suatu tugas dengan prestasi kerja yang optimal.
- Core Competency atau yang kerap dikenal sebagai kompetensi dasar merupakan kompetensi yang dibutuhkan oleh seluruh job roles yang ada di sebuah organisasi. Atau dengan lebih mudah dapat dikatakan, core competency ini wajib dimiliki oleh semua anggota organisasi. Sehingga karena core competency ini merupakan kompetensi dasar, maka untuk menentukannya harus melihat kembali kepada business driver dan corporate values yang dimiliki organisasi.
- Specific Competency atau yang juga dikenal sebagai kompetensi khusus, merupakan kompetensi yang dibutuhkan oleh masing-masing job role atau pekerjaan dalam organisasi. Tentunya dalam competency profiling, salah satu tahapan yang harus dilalui adalah melakukan interview dengan incumbent (pemegang jabatan) dan interview dengan atasan.
- Dengan mengutip R.Pahlan (Competency Management: A Practicioner’s Guide, terjemahan, 2007), dapat menggali lima istilah dalam definisi kompetensi sebagai berikut.
(1).Karakter Dasar diartikan sebagai kepribadian seseorang yang cukup dalam dan berlangsung lama. Dalam definisi ini, karakter dasar mengarah pada motif, karakteristik pribadi, konsep diri dan nilai-nilai seseorang.
(2).Kriteria Referensi berarti bahwa komptensi dapat diukur berdasarkan standar atau kriteria tertentu. Dapat diukur faktor-faktor pembentuk terjadinya kinerja karyawan yang beragam (unggul, biasa, dan rendah). Dari faktor-faktor tersebut kemudian dapat diprediksi kinerja seseorang. Misalnya angka penjualan yang dilakukan seorang wiraniaga per satuan waktu.
(3).Hubungan Kausal mengindikasikan bahwa keberadaan suatu kompetensi dan pendemonstrasiannya memprediksi atau menyebabkan suatu kinerja unggul. Kompetensi-kompetensi seperti motif, sifat dan konsep diri dapat memprediksikan ketrampilan dan tindakan. Kemudian ketrampilan dan tindakan memprediksi hasil kinerja pekerjaan. Jadi disitu ada maksud atau motif yang mengakibatkan sebuah tindakan atau perilaku yang membuahkan hasil. Contohnya, kompetensi pengetahuan selalu digerakkan oleh kompetensi motif, karakteristik pribadi, atau konsep diri. Model kausal ini dapat diperjelas lagi melalui contoh berikut; kalau organisasi tidak mengakuisisi atau mengembangkan kompetensi inisiatif bagi para karyawannya, maka dapat diduga pekerjaan yang harus disupervisinya akan dikerjakan ulang dan biaya untuk memastikan kualitas pelayanan akan meningkat.
(4).Kinerja Unggul mengindikasikan tingkat pencapaian,misalnya dari sepuluh persen tertinggi dalam suatu situasi kerja.
(5).Kinerja Efektif adalah batas minimum tingkat hasil kerja yang dapat diterima. Ini biasanya merupakan garis batas dimana karyawan yang hasil kerjanya di bawah garis ini dianggap tidak kompeten untuk melakukan pekerjaan tersebut.
- Ruky (2003:104) mengutip pendapat Spencer & Spencer dari kelompok konsultan Hay & Mac Ber bahwa Kompetensi adalah “an underlying characteristic of an individual that is casually related to criterion – referenced effective and/or superior performance in a job or situation” (Karakteristik dasar seseorang yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak, membuat generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi, serta bertahan cukup lama dalam diri manusia).
- The Jakarta Consulting Group (Susanto, 2002) memberikan batasan bahwa kompetensi adalah segala bentuk perwujudan, ekspresi, dan representasi dari motif, pengetahuan, sikap, perilaku utama agar mampu melaksanakan pekerjaan dengan sangat baik atau yang membedakan antara kinerja rata-rata dengan kinerja superior. Pendekatan ini dilihat dari sudut pandang individual.
- Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 46A Tahun 2003 Tanggal 21 Nopember 2003 ditentukan bahwa ”Kompetensi adalah kemampuan dan karak-teristik yang dimiliki seorang Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara professional, efektif, dan efisien”.
- Menurut Watson Wyatt dalam Ruky (2003:106) competency merupakan kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku (attitude) yang dapat diamati dan di-terapkan secara kritis untuk suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi pribadi karyawan terhadap organisasinya.
- Jadi dapat disimpulkan bahwa Kompetensi adalah sebuah pernyataan terhadap apa yang seseorang harus lakukan ditempat kerja untuk menunjukan pengetahuannya, keterampilannya dan sikap sesuai dengan standar yang dipersyaratkan.
2.
Kompetensi Lunak -
 soft skill competency
,PENTING TETAPI TIDAKDIPENTINGKAN
Mat Sahudihttp://matsahudi.blogspot.com
Kompetensi lunak (
Soft skill competency
) merupakan istilah yang berkaitandengan pengelolaan diri dan orang lain, seperti karakter kepribadian, spiritual, jiwa sosial, kemampuan komunikasi, kebiasaan pribadi, keramahan, motivasi,insiatif dan optimisme. Sementara itu, kompetensi keras (
hard skill competency)
 mengacu kepada keterampilan teknis dan procedural.


Kompetensi Lunak : Penting
1.

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionaltelah mengamanatkan agar pendidikan mengembangkan kompetensilunak dan kompetensi keras.”Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkansuasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan danpemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat denganmemberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkankreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran budaya membaca,menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat”Sementara itu menurut UNESCO, tujuan belajar yang dilakukan olehpeserta didik harus dilandaskan pada empat pilar yaitu
learning how toknow, learning how to do, learning how to be, dan learning how to livetogether
.
Dua landasan yang pertama mengandung maksud bahwa prosesbelajar yang dilakukan peserta didik mengacu pada kemampuanmengaktualkan dan mengorganisir segala pengetahuan dan keterampilanyang dimiliki masing-masing individu dalam menghadapi segala jenispekerjaan berdasarkan basis pendidikan yang dimilikinya (memilik
HardSkill
). Dengan kata lain peserta didik memiliki kompetensi yangmemungkinkan mereka dapat bersaing untuk memasuki dunia kerja.Sedangkan dua landasan yang terakhir mengacu pada kemampuanmengaktualkan dan mengorganisir berbagai kemampuan yang ada padamasing-masing individu dalam suatu keteraturan sistemik menuju suatutujuan bersama. Maksudnya bahwa untuk bisa menjadi seseorang yang diinginkan dan bisa hidup berdampingan bersama orang lain baik di tempatkerja maupun di masyarakat maka harus mengembangkan sikap toleran,simpati, empati, emosi, etika dan unsure psikologis lainnya. Inilah yangdisebut dengan
Soft Skill.
2.

Keberhasilan seseorang lebih dominan ditentukan oleh kompetensi lunakdi bandingkan oleh kompetensi kerasHasil penelitian dari Harvard University Amerika Serikat mengungkapkanbahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata olehpengetahuan dan keterampilan teknis (
hard skill
), tetapi oleh keterampilanmengelola diri dan orang lain (
soft skill
). Penelitian ini mengungkapkan,kesuksesan hanya ditentukan sekitar 18 % dengan
hard skill
dan sisanya 82% dengan
soft skil
l. (Suara Merdeka, 4 Oktober 2004). Buku berjudul:Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999) memuat sharing danwawancara 50 orang tersukses di Amerika: mereka sepakat yang palingmenentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis melainkan kualitasdiri yang termasuk dalam keterampilan lunak (
softskills
) atau keterampilanberhubungan dengan orang lain (
people skills
).Hasil survai Majalah Mingguan Tempo (20 Mei 2007) tentang keberhasilanseseorang mencapai puncak karirnya karena memiliki karakter: maubekerja keras, kepercayaan diri tinggi, mempunyai visi ke depan, bisabekerja dalam tim, memiliki kepercayaan matang, mampu berpikir analitis,mudah beradaptasi, mampu bekerja dalam tekanan, cakap berbahasainggris, dan mampu mengorganisir pekerjaan,.Survei kepada 457 pemimpin, tentang 20 kualitas penting seorang juaramendapati hasil berturut-turut adalah kemampuan komunikasi,kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuaninterpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, dayaanalitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasipada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana,indeks prestasi (IP >= 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuanberwirausaha. IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa,dalam indikator orang sukses tersebut ternyata menempati posisi hampirterakhir, yaitu nomor 17. (Survai dari National Associatia of College andEmployee (NACE) USA 2002)


Kompetensi Lunak : Tidak dipentingkan
Bagaimana kenyataanya pendidikan kita? Apakah sebagian besar menukompetensi yang diajarkan lebih didominasi kompetensi lunak? Apakahkompetensi yang sudah dipunyai para pendidik lebih dominan padakompetensi keras ataukah kompetensi lunak?

APAKAH KOMPETENSI ITU ?
0 komentar
Posted in Label: ARTIKEL

Pengertian

Berdasarkan teori secara umum kompetensi dapat didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai sebagai kinerja yang berpengaruh terhadap peran, perbuatan, prestasi serta pekerjaan seseorang.
Ada lima tipe kompetensi, yaitu :
1. Motif; Yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berpikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi. Contoh seseorang yang mempunyai motivasi akan menentukan tantangan untuk dirinya sendiri, dan bertanggung jawab dalam mencapai tantangan tersebut dan mengadakan suatu perbaikan dalam pelaksanaannya.
2. Pembawaan; Yaitu karakteristik fisik yang merespon secara konsisten berbagai situasi dan informasi. Contoh: reaksi terhadap waktu dan sudut pandang yang baik adalah kompetensi bawaan dari seseorang pilot pesawat tempur.
3. Konsep Diri. Yaitu suatu tingkah laku, nilai atau citraan ( image ) seseorang. Contoh : percaya diri, apabila seseorang percaya diri akan lebih efektif dalam menghadapi situasi.
4. Pengetahuan. Yaitu suatu informasi khusus yang dimiliki seseorang dalam memahami suatu informasi.
5. Keterampilan. Yaitu kemampuan untuk melakukan tugas secara fisik atau mental. Contoh; Seorang dokter gigi memiliki kemampuan fisik dalam menambal gigi tanpa merusak syaraf.

MENGAPA HARUS KOMPETENSI ?

Globalisasi yang ditandai dengan kemajuan cepat serta mendunia di bidang informasi dan teknologi dalam dua dasar warsa terakhir telah berpengaruh pada beradapan manusia melebihi jangkauan pemikiran sebelumnya.
Untuk mencapai kehidupan damai, sejahtera dan diperhitungkan dalam masyarakat dunia diperlukan pemaknaan baru tentang kesejahteraan bangsa. Dengan dimilikinya ketiga hal tersebut maka akan lebih mudah bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketinggalan dari bangsa - bangsa lain. Tingginya daya saing memerlukan kompetensi yang tinggi pula karena dalam abad pengetahuan ini pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kompetensi sumber daya manusia.
Globalisasi dan kemajuan informas, komunikasi dan teknologi menyebabkan fenomena perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan. Pasar bebas, kemampuan bersaing, kemampuan penguasaan pengetahuan dan teknologi, menjadi makin penting untuk kemajuan satu bangsa.
Pada abad pengetahuan ini diperlukan masyarakat berpengetahuan yang belajar sepanjang hayat sehingga tidak seorangpun dibolehkan untuk tidak memperoleh penetahuan dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan serta keterampilan yang harus dikuasai oleh masyarakat sangat beragam dan berkualitas.

BAGAIMANA MENYUSUN KOMPETENSI

Pertama - tama yang perlu diperhatikan adalah bahwa pengembangan pemilikan kompetensi merupakan proses yang sangat penting. Penyajian kompetensi yang baik harus dapat mengubah kecakapan berpikir, bekerja dan berprestasi seseorang. Dalam menyusun kurikulum perlu adanya perubahan penekanan pola pikir dan pola tindakan dari APA YANG HARUS DIPELAJARI PESERTA DIDIK ? berubah menjadi BAGAIMANA MEMBELAJARKAN PESERTA DIDIK ?.
Bila perubahan ini kita hayati maka diperlukan persiapan yang emadai untuk menyusun kompetensi. Penyusun memerlukan pengumpulan informasi dari berbagai sumber, termasuk nara sumber terutama dari masyarakat dan dunia kerja, buku - buku perpustakaan atau referensi lain.
Dalam penyusunan kompetensi diperlukan penggunaan kata kerja yang signifikan. Untuk itu mengunakan taksonomi Bloom, Kratwohl dan Anderson dalam menyusun kompetensi masih dapat dilakukan.
Perinsip - perinsip pengembangan kompetensi antara lain:
1. Meluas ( broad ) sehingga peserta didik memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan pengalaman tentang pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai - nilai yang berkaitan dengan etika, estitika, logika serta kinestetika pada saat belajar.
2. Seimbang ( balanced ) dimana setiap kompetensi perlu dapat dicapai melalui alokasi waktu yang cukup untuk pembelajaran yang efektif.
3. Relevan dimana setiap kompetensi terkait dengan penyiapan peserta didik untuk meningkatkan mutu kehidupan melalui kesempatan,pengalaman serta latihan etika berperan dan bersikap secara bertanggung jawab dalam mewujudkan kedewasaan.


RINGKASAN

KOmpetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai - nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir serta bertindak. ( Depdiknas, 2004 ). Kompetensi dikembangkan untuk memberkan keterampilan dan keahlian berdaya saing serta berdaya suai untuk bertahan hidup dalam perubahan ketentangan, ketidak tentuan dan kerumitan dalam kehidupan.


Dimensi-Dimensi Kompetensi
Menurut Cut Zurnali (2010), penentuan dimensi-dimensi kompetensi yang sering digunakan dalam riset-riset kompetensi didasari pada pendapat Boyatzis (2008) yang merangkum pendapat para ahli sebagai berikut: Bray et al.(1974); Boyatzis (1982); Kotter (1982); Luthans et. al.(1988); Howard and Bray (1988); Campbell et al. (1970); Spencer and Spencer(1993); Goleman (1998), dan Goleman et al.(2002), yang mengelompokkan kompetensi menjadi tiga dimensi, yaitu:
1. Kompetensi kognitif (cognitive competencies);
2. Kompetensi kecerdasan emosional (emotional intelligence competencies); dan
3. Kompetensi kecerdasan sosial (social intelligence competencies).

Lebih lanjut Cut Zurnali (2010) menyatakan bahwa dimensi-dimensi ini dirasakan sangat rasional dalam menganalisis kompetensi para pekerja/karyawan dalam suatu perusahaan dikarenakan dapat mendeskripsikan kompetensi yang dimiliki sekaligus apa-apa saja yang mesti ditingkatkan pada diri seorang pekerja/karyawan agar dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan atau organisasi.

Kompetensi kognitif (cognitive competencies)
Dimensi pertama adalah kompetensi kognitif. Dimensi ini didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk berfikir dan menganalisis informasi dan situasi yang menuntun atau menyebabkan timbulnya keefektifan atau kinerja yang superior. Penekanan dimensi ini pada pemikiran sistem dan pengenalan pola para pekerja/karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya (Boyatzis dalam Cut Zurnali : 2010).

Kompetensi kecerdasan emosional (emotional intelligence competencies)

Dimensi kedua adalah kompetensi kecerdasan emosional. Dimensi ini didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menggunakan informasi emosional mengenai diri sendiri yang menuntun atau menyebabkan keefektifan atau kinerja yang superior. Penekanan dimensi ini, pada kesadaran diri dan kompetensi manajemen diri para pekerja/karyawan berupa kesadaran emosional diri dan pengendalian emosional diri, dalam melaksanakan pekerjaannya (Boyatzis dalam Cut Zurnali : 2010).

Kompetensi kecerdasan sosial (social intelligence competencies)

Dimensi ketiga adalah kompetensi kecerdasan sosial. Dimensi ini didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menggunakan informasi emosional mengenai orang lain yang menuntun atau menyebabkan keefektifan atau kinerja yang superior. Penekanan dimensi ini pada kesadaran sosial dan kompetensi manajemen hubungan para pekerja/karyawan berupa empati dan kerja tim yang semestinya dimiliki dalam menjalankan pekerjaannya (Boyatzis dalam Cut Zurnali : 2010).

[sunting] Penelitian-Penelitian Kompetensi
Cut Zurnali (2010) dalam bukunya yang berjudul "Learning Organization, Competency, Organizational Commitment, dan Customer Orientation : Knowledge Worker - Kerangka Riset Manajemen Sumberdaya Manusia di Masa Depan" merangkum beberapa penelitian mengenai kompetensi sebagai berikut :
1. Penelitian Yildirin (2007) menginvestigasi kecerdasan emosional berdasarkan kompetensi pada karyawan bagian IT dan Sales. Penelitian dilakukan terhadap 111 karyawan dari 12 perusahaan yang bergerak pada 4 sektor yang berbeda. Emotional Competency Inventory (ECI, 2.0) digunakan untuk menaksir kompetensi emosional partisipan. Cluster ECI yang digunakan: 1) Self- awareness, dengan dimensi: Accurate self-assessment, Emotional self-awareness, dan Self-confidence; 2) Self-management, dengan dimensi: Achievement orientation, Adaptability, Emotional self-control, Initiative, Optimism, dan Trustworthiness; 3) Social-awareness, dengan dimensi: Empathy, Organizational awareness dan Service orientation ; dan 4) Social-skills, dengan dimensi: Change catalyst, Conflict management, Developing others, Influence, Inspirational leadership, dan Teamwork and collaboration. Hasil independent sample t-test menunjukkan karyawan IT dan Sales secara signifikan berbeda satu dengan lainnya dalam semua dimensi utama ECI kecuali pada self-management. 2 perbedaan discriminant analyses dibuat dalam 4 dimensi ECI dan semua kompetensi emosional untuk menentukan satu yang membedakan kedua kelompok karyawan tersebut. Berdasarkan hasil analisis diskriminan dalam 4 dimensi ECI, kecuali Self-management, 3 dimensi lain mempunyai muatan signifikan untuk membedakan semua kelompok. Bagaimanapun, pada basis kompetensi yang ada, tidak terdapat kompetensi emosional yang dominan yang membedakan satu kelompok karyawan tersebut dengan kelompok lainnya. Akhirnya ditemukan bahwa lebih berarti menggunakan cluster kompetensi untuk mengkonstruksi model kompetensi dari kedua posisi ini daripada menggunakan model kompetensi tunggal.
2. Penelitian Muray, Peter (2003), yang dilakukan terhadap para kontraktor besar industri konstruksi di New South Wales. Penelitian ini mencoba melihat keterkaitan antara pembelajaran dengan kualitas kompetensi para kontraktor tersebut dan pengaruhnya terhadap kinerja. Data diambil dengan cara menghadiri pertemuan para kontraktor industri konstruksi tersebut, melalui bahan-bahan publikasi, dan dengan melakukan interview. Hipotesis diuji dengan uji ANOVA. Hasil pengujian menunjukkan, semakin tinggi kompetensi maka semakin tinggi pula kinerja yang dihasilkan. Dan tingginya kompetensi ini disebabkan tingginya level learning dari para kontraktor tersebut. Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan dampak dari kompetensi teknis terhadap kinerja. Bahwa semakin tinggi kompetensi teknis maka semakin tinggi pula kinerja. Dan tingginya kompetensi teknis ini disebabkan level learning yang tinggi.
3. Penelitian Ai-Hwa Quek (2005), mencoba menguji secara empiris kompetensi generik yang menjadi sangat penting bagi keberhasilan kinerja kerja dari para pekerja lulusan sarjana. Sample penelitian ini adalah para pekerja lulusan sarjana yang telah mengikuti kursus kompetensi sosial sebagai bagian dari program pelatihan kompetensi. Para pekerja lulusan sarjana bekerja di bidang perbankan, perakitan, komputer, komunikasi, dan produksi. Jumlah sampel sebanyak 32 orang. 4 orang anggota sample adalah wanita yang bekerja di organisasi komersial dan sisanya 28 orang adalah laki-laki yang bekerja pada organisasi industri. Rata-rata umur responden adalah 31 tahun dan telah bekerja pada organisasinya selama 2 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan metode penyebaran kuesioner (teknik validasinya dengan Pilot test dan Alpha Cronbach). Hasil penelitian menunjukkan interpersonal skills, knowledge-acquiring skills dan flexibility merupakan faktor yang memberikan kontribusi terhadap keberhasilan kinerja kerja. Dari hasil penelitian menunjukkan pula para pekerja lulusan sarjana juga dapat mengekspresikan value-improving skills, practical orientation abilities dan cognitive skills sebagai hal yang penting dalam keberhasilan kinerja kerja. Kompetensi generik yang dimiliki oleh para pekerja ini memungkin para pekerja Malaysia lulusan sarjana dapat mentransfer pembelajaran dari ruang kelas (the classroom) ke tempat kerja (the workplace) untuk mencapai keberhasilan kinerja kerja.(success in work performance).

Kompetensi Karyawan Dalam Organisasi Pembelajaran
Menurut Aditya Pratama (2009), perubahan dunia berpengaruh terhadap organisasi bisnis dan sekaligus terhadap kompetensi karyawan. Karyawan semakin dipandang sebagai aset yang sangat penting dari suatu perusahaan. Semakin banyak tantangan bisnis yang dihadapi perusahaan maka kedudukan karyawan menjadi semakin sangat strategis. Keunggulan kompetitif suatu perusahaan sangat bergantung pada mutu sumberdaya manusia karyawan. Artinya ketika perusahaan akan menghadapi proses pengubahan atau terlibat dalam menciptakan ubahan maka karyawan diposisikan sebagai pemain utama perusahaan.
Perusahaan akan selalu memikat, mengembangkan dan mempertahankan karyawan yang berketerampilan inovatif. Dan agar karyawan tetap bertahan bekerja di perusahaannya maka diperlukan lingkungan pembelajaran yang berkelanjutan. Bagaimana misalnya para karyawan secara bertahap dikembangkan potensi dirinya untuk memiliki pemikiran kompetitif, sinergis dan pemikiran global. Dengan demikian perusahaan akan semakin siap dalam menghadapi setiap proses perubahan lokal dan global. Hal demikian tampak jelas di suatu organisasi pembelajaran (learning organization)

Perusahaan akan terus mengembangkan potensi karyawan yang memiliki kompetensi atau standar sektor ekonomi nasional dan global. Ciri-ciri kompetensi karyawan dimaksud adalah memiliki pengetahuan, kapabilitas dan sikap inisiatif dan inovatif dalam berbagai dimensi pekerjaan:
1. Keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang berorientasi pada efisiensi, produktivitas, mutu, dan kepedulian terhadap dampak lingkungan.
2. Keterampilan dan sikap dalam berkomunikasi horisontal dan vertikal serta membangun jejaring kerja internal.
3. Keterampilan dan sikap dalam pengendalian emosi diri, membangun persahabatan dan obyektivitas persepsi.
4. Sikap dalam mau belajar secara berkelanjutan.
5. Keterampilan dan sikap dalam pengembangan diri untuk mengaitkan kompetensi pekerjaan dengan kompetensi pribadi individu.
6. Keterampilan dan sikap maju untuk mencari cara-cara baru dalam mengoptimumkan pelayanan mutu terhadap pelanggan.
7. Keterampilan dan sikap saling memperkuat (sinergitas) antarkaryawan untuk selalu meningkatkan mutu produk dan mutu pelayanan pada pelanggan.

Kalau perusahaan disebut sebagai organisasi pembelajaran, manajemen puncak sudah menempatkan upaya pengembangan kompetensi karyawan sebagai tugas rutinnya. Karyawan diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya melalui bursa gagasan yang diselenggarakan oleh manajemen puncak. Dari situ pihak manajemen bisa mengamati siapa saja karyawan yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap dan talenta tinggi. Dan kemudian dikaitkan dengan kinerjanya. Lalu dapat ditentukan siapa saja yang disiapkan untuk menempati posisi jabatan yang lebih tinggi. Sementara mereka yang berada pada kinerja yang di bawah standar diberi kesempatan untuk meningkuti pelatihan dan pengembangan.


 Referensi
1. Aditya Pratama, 2009, http://ronawajah.wordpress.com/2009/06/07/kompetensi-karyawan-dalam-organisasi-pembelajaran/
2. Ai-Hwa Quek, 2005, Learning for The Workplace: A Case Sudy in Gaduate Employees’ Generic Competencies, Journal of Workplace Learning, Vol. 17 No. 4, 2005, pp. 231-242
3. Boyatzis, Richard E., 2008-A, Competencies in The 21st Century, Journal of Management Development, Vol. 27 No. 1, pp. 5-12
4. Cut Zurnali, 2010, "Learning Organization, Competency, Organizational Commitment, dan Customer Orientation : Knowledge Worker - Kerangka Riset Manajemen Sumberdaya Manusia di Masa Depan", Penerbit Unpad Press, Bandung
5. Fleury, M.T.L. (2002), “A gesta˜o de compete╦ćncia e a estrate´gia organizacional”, in Fleury, M.T. (Ed.), As Pessoas na Organizac¸a˜ o, Gente, Sa˜o Paulo
6. Le Boterf, G. (2000), Compe´tence et Navigation Professionnelle, E´ ditions d’Organization, Paris
7. Muray, Peter, 2003, Organizational Learning, Competencies, and Firm Performance: Emperical Observations, The Learning Organization, Vol. 10, pp. 305-313
8. Prahalad, C.K. and Hamel, G. (1990) The core competence of the corporation, Harvard Business Review (v. 68, no. 3) pp. 79–91
9. Sinnott, George C. et.al, 2002, Competencies, Report of the Competencies Workgroup, September 2002, The Department of Civil Service and Governor’s Office of Employee Relations, US.
10. Spencer, Lyle M. and Signe M. Spencer, 1993, Competence Work: Model for Superior Performance, John Wiley and Sons. Inc
11. Strebler M, Robinson D and Heron P. 1997, Getting the Best Out of Your Competencies, Institute of Employment Studies, University of Sussex, Brighton
12. Yildirim, Osman, 2007, Discriminating Emotional Intelligence-Based Competencies of IT Employees and Salespeople, Journal of European Industrial Training, Vol. 31 No. 4, pp. 274-282
13. Yodhia Antariksa, 2007, http://strategimanajemen.net/2007/09/06/membangun-manajemen-sdm-berbasis-kompetensi/
14. Sumber-Sumber lain


Postingan terkait: