terapi realitas

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang :
Manusia adalah makhluk yang penuh dengan masalah. Tiada seorang pun hidup di dunia ini tanpa suatu masalah, baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Manusia yang baik adalah manusia yang mampu keluar dari setiap permasalahan hidupnya. Manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan realitas yang ada dan memiliki identitas adalah manusia yang dapat berkembang dengan baik dan sehat. Untuk membantu manusia keluar dari masalahnya dan memperoleh identitas diperlukan suatu terapi.
Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Tujuan terapi ini ialah membantu seseorang untuk mencapai otonomi.
Di balik semua itu, banyak manusia yang masih belum mencapai identitas keberhasilannya. Mereka masih belum dapat mencapai kebutuhan dasar psikologisnya, yaitu kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa Ia berguna bagi diri sendiri maupun orang lain.
Terdorong akan rasa keingintahuan serta kenyataan seperti yang tersebut di atas itulah yang membuat penulis memilih topik mengenai terapi realitas menurut William Glasser sebagai bahan kajian dalam pembuatan makalah kali ini. Selanjutnya, hasil pengkajian tersebut, penulis uraikan dalam makalah berjudul “Terapi Realitas”.
Biografi Tokoh
William Glasser adalah seorang psikiater yang mengembangkan konseling realitas pada tahun 1950-an. Gllassser mengembangkan teori ini karena merasa tidak puas dengan praktek psikiatri yang telah ada dan dia mempertanyakan dasar-dasar keyakinan terapi yang berorientasi kepada Freudian.
Glasser dilahirkan pada tahun 1925 dan dibesarkan di Cleveland, Ohio. Pada mulanya Glasser belajar dibidang teknik kimia di Universitas Case Institute Of Technology. Pada usia 19 tahun ia dilaporkan sebagai penderita shyness atau rasa malu yang akut
Pada perkembangan selanjutnya Glasser tertarik studi psikologi, kemudian dia mengambil program psikologi klinis pada Western Reserve University dan membutuhkan waktu tiga tahun untuk meraih gelar Ph.D ahirnya Glasser menekuni profesinya dengan menetapkan diri sebagai psikiater. Setelah beberapa waktu melakukan praktek pribadi dibidang klinis Glasser mendapatkan kepercayaan dari California Youth Authority sebagai kepala psikiater di Ventura School For Girl. Mulai saat itulah Glasser melakukan eksperimen tentang prinsip dan teknik reality terapi.
Pada tahun 1969 Glasser berhenti bekerja pada Ventura dan mulai saat itu mendirikan Institute For Reality Theraphy Di Brent Wood. Selanjutnya menyelenggarakan educator treaning centre yang bertujuan meneliti dan mengembangkan program-program untuk mencegah kegagalan sekolah. Banyak pihak yang dilatih dalam lembaganya ini antara lain: perawat, pengacara, dokter, polisi, psikolog, pekerja social dan guru.





BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian terapi realitas :
Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli, yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses, dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan.
Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun.
Terapi Realitas lebih menekankan masa kini, maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya, sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang.
             Untuk kasus sindroma stockholm, terapi yang dilakukan ialah terapi realitas, yang merupakan salah satu bentuk terapi yang dilandasi oleh kenyataan bahwa individu berhak memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya (sharf, 2004). Terapi ini diarahkan untuk mambantu individu agar mampu mengambil keputusan dalam berprilaku, bertanggung jawab terhadap pilihan keputusan sekalipun hal tersebut sulit, dan mengendalikan perilaku berdasarkan keputusan dengan mempertimbangkan tanggung jawabnya (1981). Pada mulanya terapi ini dikembangkan oleh Glasser (1981) terutama untuk mengatasi kesenjagan hubungan pasien dengan terapis.
Dalam terapinya, Glasser (1981) menggunakan tekhnik metafora sebagai salah satu pendekatannya. Ia juga menjabarkan terapi ini dalam bentuk metafora thermostat. Ia menjelaskan bahwa individu mempersepsi lingkungan, dan hasil kognitif diolah dalam fungsi kognitif yang selanjutnya akan mempengaruhi individu dalam memilih respon terhadap persepsinya. Individu memilih respon dengan jalan membandingkan seperti halnya termostat membandingkan terlalu panas atau terlalu dingin. Jadi, pada dasarnya perilaku individu ditentukan oleh hasil perbandingan individu atas persepsinya terhadap kondisi-kondisi yang ia hadapi.
Menurut Glasser (1981) tiap individu memiliki kebutuhan (innate needs). Hal-hal yang dipersepsikan individu dan disimpan didalam diri bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal-hal tersebut tidak harus rasional sifanya dan hal ini sikenal sebagai dunia kualitas (quality world = QW). Sebagai contoh seorang alkoholik beranggapan bahwa alkohol dapat memuaskan hidupnya, sekalipun mengetahui dampak alkohol tersebut, ia tetap mengkonsumsi alkohol untuk memuaskan dirinya.
Glasser (1981) menjelaskan bhwa pada dasarnya ada 5 kebutuhan yang mempengaruhi QW individu yaitu : a) kebutuhan bertahan hidup (need of survival), b) kebutuhan kebersamaan (need to belong to or belongingness, c) kebutuhan kekuasaan (need for power), d) kebutuhan kebebasan (need for freedom), dan e) kebutuhan kesenangan (need for fun).
Tujuan  terapi realitas :
Sama dengan kebanyakan psikoterapi, tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi. Pada dasarnya, otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal. Kemampuan ini meyiratkan bahwa orang-orang mampu bertanggung jawab atas siapa mereka dan ingin menjadi apa mereka serta mengembangkan rencana-rencana yang bertanggung jawab dan realistis guna mencapai tujuan-tujuan mereka. Glasser dan Zunin sepakat bahwa terapis harus memiliki tujuan-tujuan tertentu bagi klien dalam pikirannya. Akan tetapi, tujuan ini harus diungkapkan dari segi konsep tanggung jawab individual dan dari segi tujuan-tujuan behavioral karena klien harus menentukan tujuan-tujuan itu bagi dirinya sendiri. Mereka menekankan bahwa kriteria psikoterapi yang berhasil sangat bergantung pada tujuan-tujuan yang ditentukan oleh klien.
Tujuan terapi
1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.
2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya.
3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.
5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri.
Kosep kunci kepribadian menurut terapi realitas :
Menurut terapi realitas, ada lima macam kebutuhan pokok manusia, antara lain kepemilikan, kekuasaan, kebebasan, ketergantungan, dan fisiologis. Dalam mencapai tujuan hidup ini manusia diatur oleh adanya rambu-rambu, yaitu tanggung jawab, realitas, dan benar.
Ada beberapa ciri yang menentukan terapi realitas, yaitu sebagai berikut.
Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidakbertanggungjawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
Terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapis realitas juga tidak bergantung pada pemahaman untuk mengubah sikap-sikap, tetapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.
Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau. Karena Karena masa lampau seseorang itu telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.
Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.
Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya yang sejati, yakin bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien.
Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif, dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapeutik.
Terapi realitas menekankan tangung jawab yang didefinisikan sebagai “kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhann-kebutuhan mereka.” Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup.
Ciri – ciri dari terapi realitas :
1. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu, tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat.
2. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme.
3. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah, diperbaiki, dianalisis dan ditafsirkan. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya, sebagai pengalaman yang berharga.
4. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli .
5. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Tanggung jawab dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya.
6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata.
7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata
Peran konselor dalam terapi realitas :
Tugas dasar terapis adalah melibatkan diri dengan klien dan kemudian membuatnya menghadapi kenyataan. Glasser merasa bahwa ketika terapis menghadapi para klien, dia memaksa mereka itu utuk memutuskan apakah mereka akan atau tidak akan menempuh “jalan yang bertanggung jawab.” Terapis tidak membuat pertimbangan-pertimbangna nilai dan putusan-putusan bagi para klien, sebab tindakan demikian akan menyingkirkan tanggung jawab yang mereka miliki. Tugas terapis adalah bertindak sebagai pembimbing yang membantu klien agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis.
Peran yang harus diemban oleh seorang konselor ialah sebagai modeling, konfrontator, director, dan educator. Terapis diharapkan memberikan pujian apabila para klien bertindak dengan cara bertanggung jawab dan menunjukkan ketidaksetujuan apabila mereka tidak bertindak demikian.
Fungsi penting lainnya dari terapis realitas adalah memasang batas-batas, mencakup batas-batas dalam situasi terapeutik dan batas-batas yang ditempatkan oleh kehidupan pada seseorang. Glasser dan Zunin menunjuk penyelenggaraan kontrak sebagai suatu tipe pemasangan batas. Kontrak-kontrak yang sering menjadi bagian dari proses terapi bisa mencakup pelaporan klien mengenai keberhasilan maupun kegagalannya dalam pekerjaan di luar situasi terapi. Acap kali suatu kontrak menetapkan suatu batas yang spesifik bagi lamanya terapi.
Konselor berperan sebagai:
1. Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri.
2. Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri.
3. Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya.
4. Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya.
5. Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya.
Teknik – teknik dan prosedur terapi :
            Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedu-prosedurnya difokuskan pada kekutan-kekuatan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Terapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:
Terlibat dalam permainan peran dengan klien
Menggunakan humor
Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun
Membantu klien dengan merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan
Bertindak sebagai model dan guru
Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi
Menggunakan “terapi kejutan verbal” atau sarkasme yang layak untuk  mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis
Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif
            Terapi realitas tidak memasukkan sejumlah teknik yang secara umum diterima oleh pendekatan-pendektan terapi lain. Para psikiater yang mempraktekkan terapi realitas tidak menggunakan obat-obatan dan medikasi-medikasi konservatif, sebab medikasi cenderung menyingkirkan tanggung jawab pribadi. Selain itu, para pempraktek terapi realitas tidak menghabiskan waktunya untuk bertindak sebagai “Detektif” mencari alasan-alasan, terapi berusaha membangun kerjasama dengan para klien untuk membantu mereka dalam mencapai tujuan-tujuanya.
Tehnik-tehnik diagnostik tidak menjadi bagian terapi realitas sebab diagnostic dianggap membuang waktu dan lebih buruk lagi, dengan menyematkan label pada klien yang cenderung mengekalkan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan gagal. Tehnik-tehnik lain yang tidak digunakan adalah penafsiran, pemahaman, wawancara-wawancara nondirektif, sikap diam yang berkepanjangan, asosiasi bebas, analisis transferensi dan resistensi, dan analisis mimpi.
Terapi Realitas Tokohnya adalah William Glasser. Awalnya, terapi realitas tidak memiliki teori yang sistematis, hanya ide empiris tentang individu yang bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan (Glasser, 1984).
Premis-premis Kelompok Terapi Realitas Pendekatan ini menekankan bahwa “Semua perilaku dihasilkan dalam diri mereka sendiri untuk memenuhi satu tujuan atau lebih kebutuhan dasar” (Glasser, 1984). Tidak sama dengan teori bantuan yang lain, Glasser mengklaim bahwa perilaku bukanlah reaksi terhadap peristiwa di luar, tetapi lebih pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan internal. Empat kebutuhan dasar psikologis manusia menurut teori realitas yaitu : rasa memiliki (belonging), kekuasaan (power), kebebasan (fredoom), dan kegembiraan (fun), yang berasal dari otak manusia yang “baru”. Ada juga suatu kebutuhan dasar fisiologis untuk kelangsungan hidup (survival), yang berasal dari  otak manusia “lama” (Glasser, 1985).
Glasser (1965;1984;1985) menulis perbedaan antara terapi realitas dengan sistem psikoterapeutik lainnya sebagai berikut :
a. Terapi realitas menolak konsep sakit mental. Orang memilih untuk bertindak secara psikotik atau neurotik dalam suatu usaha untuk mengontrol beberapa tingkat dunia dan memenuhi kebutuhannya.
b. Terapi realitas menekankan kehadiran sebagai tepi potongan dari kehidupan manusia dan fokusnya pada bagaimana individu secara efektif dapat mengontrol dan memilih perilaku kehidupan yang baik dalam dunia mereka.
c. Terapi realitas tidak berurusan dengan transferensi, tapi berhubungan dengan persepsi-persepsi klien.
d. Terapi realitas tidak berurusan dengan ketidak-sadaran atau mimpi-mimpi, tapi berhubungan dengan kesadaran sekarang dan suatu usaha untuk membuat kesadaran yang mantap.
e. Terapi realitas menekankan bahwa orang harus mempertimbangkan perilaku mereka yang wajar dalam cahaya nilai-nilai personal dan masyarakat.
f. Terapi realitas berusaha mengajar orang suatu cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka dan bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Pada intinya, Glasser memandang semua psikotoerapis sebagai pengajaran dan semua pendidikan-psikologis sebagai psikoterapeutik.
Praktek Terapi Realitas dalam kelompok Praktek terapi realitas dalam adegan kelompok berdasarkan suatu proses yang rasional. Terapi menekankan pada perilaku yang tampak, di sini dan sekarang (Hansen, 1990). Ada beberapa variasi dalam penerapan konsep terapi realitas, tetapi delapan tahap dasar terapi realitas umumnya digunakan baik dalam konteks kelompok maupun individual (Glasser, 1984; Glasser & Zunin, 1973).
a) Berteman/Membangun suatu hubungan yang bermakna. Dalam langkah pertama, usaha terapis realitas adalah membangun hubungan baik (rapport) dengan setiap anggota kelompok. Orang biasanya terlibat dalam kelompok karena butuh berhubungan dengan orang lain.
b) Menegaskan perilaku sekarang/ Bertanya, apa yang dilakukan sekarang. Langkah ini terfokus pada proses pilihan. Terapi realitas menekankan pentingnya penggunaan berfikir dan bertindak, daripada perasaan atau fisiologi untuk membawa perubahan.
c) Menegaskan apakah tindakan-tindakan klien mencapai apa yang mereka inginkan. Langkah ini menekankan tentang pertimbangan anggota kelompok atas perilaku mereka dan mempelajari perilaku yang mereka kontrol. Satu bagian dari proses ini memfokuskan pada nilai-nilai personal, sedangkan bagian kedua berdasarkan aturan sistem kehidupan masyarakat.
d) Membuat suatu rencana positif untuk berbuat lebih baik. Langkah ini merupakan tahapan kritis dalam proses kelompok. Langkah ini meliputi perencanaan, menasehati, membantu, dan mendorong (Glasser,1984). Tahap ini berdasarkan pada penyelesaian tahap ketiga. Perencanaan tindakan bersifat individual. Wubbolding (1988) menyarankan rencana yang efektif memenuhi komponen berikut: berhubungan erat dengan kebutuhan anggota; sederhana dan mudah dipahami; realistik dan dapat dicapai; melibatkan tindakan-tindakan positif; independen terhadap kontribusi orang lain; dapat dipraktekkan secara teratur; dapat dilakukan dengan segera; berorientasi proses; dan terbuka untuk input yang membangun dari anggota kelompok.
e) Membuat kesepakatan untuk rencana positif selanjutnya. Tidak cukup untuk memformulasikan rencana tindakan; anggota kelompok harus mengikuti langkah selanjutnya. Rencana yang tidak memiliki kerangka komitmen yang kuat mungkin akan gagal. Dalam membuat komitmen, anggota kelompok bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka sendiri.
f) Tiada alasan. Anggota kelompok tidak akan berhasil dalam rencana tindakan mereka bila sering memaafkan kesalahan. Penerimaan alasan yang diberikan seseorang dalam kelompok menunjukkan bahwa ide mereka lemah, tidak dapat berubah, dan akibatnya tidak mampu mengontrol kehidupan mereka (Wubbolding, 1988;1991). Malahan, individu-individu dibantu untuk memformulasikan rencana lain dan dianjurkan untuk mencoba lagi.
g) Tiada hukuman. Terapi realitas menekankan, bahwa seseorang yang tidak mengikuti rencana tindakan mereka, harus hidup dengan konsekuensi alami dari hasil yang dilakukannya. Biasanya tujuan mereka tidak dicapai sebagaimana yang diinginkan. Tipe respons ini selalu memotivasi mereka, sepanjang kelompok mendorong untuk mencoba lagi.

Kekurangan dan kelebihan terapi realitas :
Kekurangan :
Salah satu kekurangan terapi realitas adalah ia tidak memberi penekanan yang cukup pada dinamika-dinamika tak sadar dan pada masa lampau individu sebagai salah satu determinan dari tingkah lakunya sekarang. Sementara Glasser di satu pihak tampaknya menerima peran masa lampau dan ketidak sadaran sebagai factor-faktor kausal dari tingkah laku sekarang, dilain pihak ia menolak nilai factor-faktor tersebut dalam memodifikasi tingkah laku sekarang. Terapi realitas bisa menjadi suatu tipe campur tangan yang dangkal karena ia menggunakan kerangka yang terlampau disederhanakan bagi praktek terapi.
Pandangan Glasser itu terlalu menyederhanakan serta tidak sahih. Ia tidak mau mengakui bahwa banyak pasien mental adalah orang-orang yang sangat bertanggung jawab sebelum mulai menunjukkan gejala-gejala mereka. Juga, para pasien boleh jadi tetap bertanggung jawab dalam banyak area kehidupannya sementara mereka memperlihatkan tingkah laku yang psikotik atau ganjil.
Kelebihan :
Jangka waktu terapi realitas tampaknya adalah jangka waktu terapinya yang relative pendek dan berurusan dengan masalah-masalah tingkah laku sadar. Klien dihadapkan pada keharusan mengevaluasi tingkah lakunya sendiri dan membuat pertimbangan nilai. Pemahaman dan kesadaran tidak dipandang cukup; rencana tindakan dan komitmen untuk melaksanakannya dipandang sebagai inti proses terpeutik. Para klien boleh jadi ingin dimaklumi , memainkan permainan-permainan menyalahkan, dan memanggap orang lain sebagai pihak yang bertanggung jawab atas masalah-masalah yang dihadapi oleh mereka sekarang.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa hal berikut.
1. Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan pada tingkah laku sekarang.
2. Menurut terapi realitas, ada lima macam kebutuhan pokok manusia, antara lain kepemilikan, kekuasaan, kebebasan, ketergantungan, dan fisiologis. Dalam mencapai tujuan hidup ini manusia diatur oleh adanya rambu-rambu, yaitu tanggung jawab, realitas, dan benar.
3. Ada beberapa ciri yang menentukan terapi realitas, yaitu sebagai berikut.
4. Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Ia berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidakbertanggungjawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis-diagnosis psikologis. Ia mempersamakan gangguan mental dengan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan kesehatan mental dengan tingkah laku yang bertanggung jawab.
5. Terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapis realitas juga tidak bergantung pada pemahaman untuk mengubah sikap-sikap, tetapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.
6. Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan kepada masa lampau. Karena Karena masa lampau seseorang itu telah tetap dan tidak bisa diubah, maka yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.
7. Terapi realitas menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya.
8. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.
9. Terapi realitas tidak menekankan transferensi. Ia tidak memandang konsep tradisional tentang transferensi sebagai hal yang penting. Ia memandang transferensi sebagai suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menempuh cara beradanya yang sejati, yakin bahwa mereka menjadi diri sendiri, tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibu klien.
10. Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif, dan bahwa hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan perusakan hubungan terapeutik.
11. Terapi realitas menekankan tangung jawab yang didefinisikan sebagai “kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhann-kebutuhan mereka.” Belajar tanggung jawab adalah proses seumur hidup.




DAFTAR PUSTAKA
http://psikonseling.blogspot.com/2009/01/terapi-realitas.html
http://jeffy-louis.blogspot.com/2011/02/terapi-realitas.html
http://inunkchubb.blogspot.com/2010/05/realitykonselling.html?zx=5b28ea1682a6921c
orime.about.com/od/victims/a/stockhlomsyn.htm
http://drjoecarver.makeswebsites.com/clients/49355/File/love_and_stockholm_syndrome.html






Postingan terkait: