Sampah adalah

Sampah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang berwujud padat baik berupa zat organik maupun anorganik yang bersifat dapat terurai maupun tidak dapat terurai dan dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga dibuang ke lingkungan (Menteri Negara Lingkungan Hidup (2003) dalam Noriko (2003)). Pada umumnya sampah dibagi menjadi dua. Pertama adalah sampah basah yang terdiri dari bahan organik yang mudah membusuk, sebagian besar adalah sisa makanan, potongan hewan, sayuran dan lain-lain. Kedua adalah sampah kering, yaitu sampah yang terdiri dari logam seperti besi tua, kaleng bekas dan sampah kering yang non logam seperti kertas, kayu, kaca, keramik, batu-batuan dan sisa yang lain.
Sampah organik merupakan sampah yang mudah membusuk yang disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme. Pembusukan sampah ini akan menghasilkan gas metana (CH4 dan H2S) yang bersifat racun bagi tubuh makhluk hidup (Noriko, 2003). Penanganan jenis sampah ini sebenarnya dapat dilakukan dengan cara meminimalkan bangkitan sampah di perkotaan, pertama melalui program upaya pengurangan jumlah sampah, kedua dengan mendaur ulang dan ketiga memanfaatkan sampah yang masih berguna (Suganda, 2004). Sampah yang tidak dapat membusuk adalah sampah yang memiliki bahan dasar plastik, logam, gelas, karet. Untuk pemusnahannya dapat dilakukan pembakaran tetapi dapat menimbulkan dampak lingkungan karena menghasilkan zat kimia, debu dan abu yang berbahaya bagi makhluk hidup (Noriko, 2003).

Sampah di tampung pada sebuah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk dikelola. Sistem pengelolaan sampah biasanya menggunakan sistem Sanitary Landfill yaitu sistem pengelolaan sampah yang mengembangkan lahan cekungan dengan syarat tertentu, antara lain jenis dan porositas tanah. Dasar cekungan pada sistem ini dilapisi geotekstil. Lapisan yang menyerupai plastik ini menahan peresapan lindi ke tanah. Di atas lapisan ini, dibuat jaringan pipa yang akan mengalirkan lindi ke kolam penampungan. Lindi yang telah melalui instalasi pengolahan baru dapat dibuang ke sungai. Sistem ini juga mensyaratkan sampah ditutupi dengan tanah setebal 15 cm tiap kali timbunan mencapai ketinggian 2 m. Sistem Sanitary Landfill tentunya harus memenuhi desain teknis tertentu sehingga sampah yang dimaksudkan ke tanah tidak mencemari tanah dan air tanah. Di negara maju sampah sebelum masuk ke TPA dipilah terlebih dahulu antara sampah organik dan non organik. Sampah seperti kaca, logam, plastik dan sampah medis dibakar dengan incenerator dengan suhu minimal 10000 C hingga menjadi abu putih sebelum ditimbun.

Secara umum Sanitary Landfill terdiri atas elemen sebagai berikut:


1. Lining System berguna untuk mencegah atau mengurangi kebocoran lindi ke dalam tanah yang akhirnya bisa mencemari air tanah. Biasanya Lining System terbuat dari compacted clay, geomembran, atau campuran tanah dengan bentonite.

2. Leachate Collection System dibuat di atas Lining system dan berguna untuk mengumpulkan leachate dan memompa ke luar sebelum lindi menggenang di lining system yang akhirnya akan menyerap ke dalam tanah. lindi yang dipompa keluar melalui sumur yang disebut Leachate Extraction System yang biasanya di kirim ke Wastewater untuk diproses sebelum pembuangan akhir.

3. Cover atau cap system berguna untuk mengurangi cairan akibat hujan yang masuk ke dalam landfill. Dengan berkurangnya cairan yang masuk akan mengurangi lindi.

4. Gas ventilation System berguna untuk mengendalikan aliran dan konsentrasi di dalam landfill dengan demikian mengurangi resiko gas mengalir di dalam tanah tanpa terkendali yang akhirnya dapat menimbulkan peledakan.

5. Monitoring system bisa dibuat di dalam atau di luar landfill sebagai peringatan dini kalau terjadi kebocoran atau bahaya kontaminasi di lingkungan sekitar.
(http://www.indoconstruction.com/200108/#Ir. Franciscus S Hardianto, MSCE, PE. dalam Noriko (2003)).

Selain sistem Sanitary Landfill, sistem yang biasa digunakan adalah sistem Open Dumping atau model curah yang lebih primitif dari pada sistem Sanitary Landfill, yaitu sampah ditumpuk menggunung pada suatu tempat tanpa dilapisi geotekstil dan saluran lindi. Sistem inilah yang biasa digunakan TPA di Indonesia. Sistem ini sangat berbahaya karena sampah yang dibiarkan terbuka bukan hanya mengakibatkan pencemaran udara akibat bau. Sampah yang menggunung akan menghasilkan lindi, yakni limbah cair, baik yang berasal dari proses pembusukan sampah maupun karena pengaruh luar. Kedua hal itu akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas lindi. TPA yang terletak di daerah yang curah hujan tinggi akan menghasilkan kandungan lindi tinggi. Tetapi kualitas lindi itu masih dipengaruhi komposisi atau karakteristik sampah yang dibuang, umur timbunan, dan pola operasional TPA. Lindi yang berasal dari TPA akan mengalir masuk ke dalam tanah dan manjadi aliran air tanah dan mencemari sumur-sumur penduduk yang tinggal di daerah sekitar TPA.
Tumbuhnya perumahan liar di sekitar TPA menimbulkan permasalahan yang perlu disikapi, karena rumah tersebut jauh dari kriteria sehat. Masyarakat di sekitar TPA mengambil kesempatan memilah sampah organik dan anorganik. Plastik, botol bekas, kaleng dan kaca merupakan bahan bekas yang dapat didaur ulang. Kontribusi pemulung dalam mendaur ulang sampah cukup besar, tetapi proses pencucian sampah plastik belum memperhatikan aspek kebersihan. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah lalat yang jumlahnya di atas kriteria baku mutu. Pemilahan sampah anorganik membantu sistem sanitary landfill karena sampah organik telah terpisah, tetapi upaya pemilahan belum optimum sehingga masih ditemukan sampah organik dan anorganik masih tercampur. Plastik yang tidak terurai ini dapat menimbulkan masalah lingkungan. Usaha pengumpulan sampah plastik, kaca, besi memberikan nilai positif bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar TPA karena limbah ini merupakan komoditi yang bernilai ekonomi.

Postingan terkait: