1. Apakah yang dimaksud dengan konseling? 2. Apa saja teori-teori konseling itu? 3. Siapakah konselor itu?

A. Latar Belakang
Saat ini kita hidup dalam dunia yang kompleks, sibuk, dan terus berubah. Hal tersebut membuat beberapa masalah, khususnya dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan masalah-masalah yang mincul banyak dialami oleh para siswa, misalnya masalah be ajar, masalah pribadi siswa, mauoun masalah psikologi siswa. Hal tersebut membuat beberapa masalah yang dapat menggangu dalam proses pendidikan.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam dunia pendidikan, salah satu di antaranya adalah denagn mencari dan memberikan solusi pada anak itu sendiri atau bisa disebut konseling. Permasalahan-permasalahan dalam pendidikan tiap sekolah bahkan tiap anak berbeda-beda, oleh katena itu dibutuhkan solusi yang berbeda pula sehingga beberapa teori-teori tentang konseling ini bermunculan. Dalam melakukan konseling tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, maka dari itu muncul istilah konselor. Konselor member solusi pada masalah-masalah yang diharapkan dapat membantu dalam dunia pendidikan.
Tapi konselorpun harus mengerti mengenai teori dalam bimbingan konseling, hal ini agar konselor mamp untuk mengatasi masalah dengan cara yang tepat yang sesuai dengan teori konseling.
Maka dalam makalah ini yang akan dibahas adalah mengenai teori konseling dan konselor itu sendiri. Diharapkan dengan makalah ini, maka pembaca akan mampu mengerti, memahami, dan mengaplikasikan apa yang ada dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan konseling?
2. Apa saja teori-teori konseling itu?
3. Siapakah konselor itu?
4. Apa saja tugas-tugas konselor di sekolah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari konseling.
2. Untuk mengetahui teori-teori konseling.
3. Untuk mengetahui pengertian dari konselor.
4. Untuk mengetahui tugas-tugas konselor.






BAB II
PEMBAHASAN
A. Konseling
Konseling merupakan suatu proses untuk memebantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi)
Konseling mencakup bekerja dengan banyak orang dan hubungan yang mungkin saja bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah. Tugas konseling adalah memberikan kesempatan pada klient untuk mengeksplorasi, menemukan, dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu (BAC: 1984) . konseling didesain untuk menolong klient memahami dan menjelaskan pandangan mereka pada kehidupan, dan untuk membantu mencapai tujuan penentuan diri mereka melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal (Burks dan Steffrle, 1979:14).

Tujuan Konseling
Berikut ini adalah beberapa tujuan yang didukung secara eksplisit dan implicit oleh para konselor:
1. Pemahaman
Adanya pemahaman terhadap akar dan perkembangan kesulitan emosional, mengarah kepada peningkatan kapasitas untuk lebih memilih control rasional daripada perasaan dan tindakan.
2. Berhubungan dengan orang lain
Menjadi lebih mampu membentuk dan mempertahankan hubungan yang bermakna dan memuaskan dengan orang lain. Misalnya dalam keluarga atau di tempat kerja.
3. Kesadaran diri.
Menjadi lebih peka terhadap pemikiran dan perasaan yang selama ini ditahan atau ditolak, atau mengembangkan perasaan yang lebih akurat berkenaan dengan bagaimana penerimaan orang lain terhadap diri.
4. Penerimaan diri
Pengembangan sikap positif terhadap diri, ditandai oleh kemampuan menjelaskan pengalaman yang selalu menjadi objek kritik diri dan penolakan.
5. Aktualisasi diri atau individualisasi
Pergerakan kea rah pemenuhan potensi atau penerimaan integrasi bagian diri yang sebelumnya saling bertentangan.
6. Pencerahan
Membantu klien mencapai kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
7. Pemecahan masalah
Menemukan pemecahan problem tertentu yang tak bisa dipecahkan oleh klien seorang diri. Menuntut kompetensi umum dalam pemecahan masalah.
8. Pendidikan psikologi
Membuat klien mampu menangkap ide dan teknik untuk memahami dan mengontrol tingkah laku.
9. Memiliki keterampilan social
Mempelajari dan menguasai keterampilan social dan interpersonal seperti mempertahankan kontak mata, tidak menyela pembicaraan, asertif, atau pengendalian kemarahan.
10. Perubahan kognitif
Modifikasi atau mengganti kepercayaan yang tak rasional atau pola pemikiran yang tidak dapat diadaptasi, yang diasosiasikan dengan tingkah laku penghancuran diri.
11. Perubahan tingkah laku
Modifikasi atau mengganti pola tingkah laku yang maladaptive atau merusak.
12. Perubahan system
Memperkenalkan perubahan dengan cara beroperasinya system social, contoh : keluarga.
13. Penguatan
Berkenaan dengan keterampilan, kesadaran, dan pengetahuan yang akan membuat klien mampu mengontrol kehidupannya.
14. Restitusi
Membantu klien membuat perubahan kecil terhadap perilaku yang merusak.
15.  Reproduksi ( generativity) dan aksi social
Menginspirasikan dalam diri seseorang hasrat dan kapasitas untuk peduli terhadap orang lain, membagi pengetahuan, dan mengkontribusikan kebaikan bersama ( collective good) melalui kesepakatan kolektif dan kerja komunitas.

B. Teori konseling
1. Konseling Trait & Factor
Tokoh-tokoh dalam teori konseling Trait & Factor antara lain : Wolter Bingham, John Darley, Donald G. Paterson, dan E. G. Williemson. Menurut teori ini, kepribadian merupakan suatu system sifat atau factor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti kecakapan,minat,sikap,dan tempramen.
Proses konseling dibagi dalam lima tahap sebagai berikut :
a. Tahap Analisis
Tahap kegiatan yang terdiri pengumpulan informasi dan data mengenai klien.
b. Tahap Sintesis
Langkah merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukkan bakat, kekuatan, kelemahan dan kemampuan penyesuaian diri klien.
c. Tahap Diagnosis
Sebenarnya merupakan langkah pertama dalam bimbingan dan hendaknya dapat menemukan ketetapan yang dapat mengarah kepada permasalahan, sebab-sebabnya, sifat-sifat klien yang relevan dan berpengruh pada penyesuaian diri. Diagnosis meliputi :
1) Identifikasi masalah yang sifatnya deskriptif misalnya dengan menggunakan kategori Bordin dan Pepinsky, Kategori diagnosis Bordin meliputi :
a) dependence (ketergantungan)
b) lack of information (kurangnya informasi)
c) self conflict (konflik diri)
d) choice anxiety (kecemasan dalam membuat pilihan)
Sedangkan Kategori diagnosis Pepinsky meliputi :
a) lack of assurance (kurang dukungan)
b) lack of information (kurang informasi)
c) dependence (ketergantungan)
d) self conflict (konlflik diri)
2) Menentukan sebab-sebab, mencakup perhatian hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan yang dapat menerangkan sebab-sebab gejala. Konselor menggunakan intuisinya yang dicek oleh logika, oleh reaksi klien, oleh uji coba dari program kerja berdasarkan diagnosa sementara.
3) Prognosis yang sebenarnya terkandung didalam diagnosis misalnya diagnosisnya kurang cerdas pronosisnya menjadi kurang cerdas untuk pekerjaan sekolah yang sulit sehingga mungkin sekali gagal kalau ingin belajar menjadi dokter. Kalau klien belum sanggup berbuat demikian, maka Konselor bertanggung jawab dan membantu klien untuk mencapai tingkat pengambilan tanggung jawab. Untuk dirinya sendiri, yang berarti dia mampu dan mengerti secara logis, tetapi secara emosional belum mau menerima.
d. Tahap Konseling
Merupakan hubungan membantu klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber diluar dirinya, baik dilembaga, sekolah dan masyarakat dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuannya. Dalam kaitan ini ada lima jenis konseling adalah :
1. belajar terpimpin menuju pengertian diri
2. mendidik kembali atau mengajar kembali sesuai dengan kebutuhan individu sebagai alat untuk mencapai tujuan kepribadiannya dan penyesuaian hidupnya.
3. Bantuan pribadi dan Konselor, agar klien mengerti dan trampil dalam menggunakan prinsip dan teknik yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mencakup hubungan dan teknik yang bersifat menyembuhkan dan efektif.
5. Mendidik kembali yang sifatnya sebagai katarsis atau penyaluran
e. Tahap Tindak Lanjut
Mencakup bantuan kepada klien dalam menghadapi maslaah baru dengan mengingatkannya kepada masalah sumbernya sehingga menjamin keberhasilan konsleing. Teknik yang digunakan harus disesuaikan dengan individualitas klien.

Teknik Konseling meliputi beberapa hal antara lain :
a. Pengunaan hungan intim (Rapport), Konselor harus menerima konseli dalam hubungan yang hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan terhindar dari hal-hal yang mengancam konseli.
b. Memperbaiki pemahaman diri, konseli harus memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, dan dibantu untuk menggunakan kekuatannya dalam upaya mengatasi kelemahannya. Penafsiran data dan diagnosis dilakukan bersama-sama dengan klien dan Konselor menunjukkan profil tes secara arif.
c. Pemberian nasehat dan perencanaan program kegiatan. Konselor mulai dari pilihan, tujuan, pandangan atau sikap Konselor dan kemudian menunjukkan data yang mendukung atau tidak mendukung dari hasil diagnosis. Penjelasan mengenai pemberian nasehat harus dipahami klien. Tiga metode pemberian nasehat yang dapat digunakan oleh Konselor :
1) Nasehat langsung (direct advising), dimana Konselor secara terbuka dan jelas menyatakan pendapatnya.
2) Metode persuasif, dengna menunjukan pilihan yang pasti secara jelas.
3) Metode penjelasan, yang merupakan metode ynag paling dikehendaki dan memuaskan. Konselor secara hati-hati dan perlahan-lahan menjelaskan data diagnostic dan menunjukan kemungkinan situasi yang menuntut penggunaan potensi konseli.
4)  Melaksanakan rencana, yaitu Konselor memberikan bantuan dalam menetapkan pilihan atau keputusan secara implementasinya.
5) menunjukkan kepada petugas lain (alih tangan) bila dirasa Konselor tidak dapat mengatasi masalah klien.

Kontribusi yang diberikan oleh teori Trait & Faktor adalah :
1. Teori sifat dan faktor menerapkan pendekatan ilmiah kepada konseli.
2. Penekanan pada penggunaan data tes obyektif, membawa kepad aupaya perbaikan dalam pengembangan dan penggunaannya, serta perbaikan dalam pengumpulan dan pengunaan data lingkungan.
3. Penekanan yang diberikan pada diagnosis mengandung makna sebagai suatu perhatian masalah dan sumbernya dan mengarah pada upaya mengkreasikan teknik-teknik untuk mengatasinya.
4. penekanan pada aspek kognitif merupakan upaya menseimbangkan pandangan lain yang lebih menekankan aspek afektik atau emosional.

2. Konseling Rational Emotive
Tokoh dalam teori ini adalah Albert Ellis yang dikenal dengan Rational Emotive Therapy (R.E.T). Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang ditemukan oleh Albert Ellis dan para penganut Rational Emotive therapy dikenal dengan “Teori A-B-C-D-E). teori ini merupakan sentral dari teori dan praktek RET. Secara umu dijelaskan dalam bagan sebagai berikut :
Komponen Proses
A Activity / action / agent
Hal-hal, situasi, kegiatan atau peristiwa yang mengawaliatau yang mengerakkan individu. (antecedent or activating event) External event
Kejadian diluar atau sekitar individu
iB
Rb Irrational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan irasional atau tidak layak terhadap kejadian eksternal (A)
Rational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasional atau layak dan secara empirik mendukung kejadian eksternal (A) Self verbalization
Terjadi dalam diri individu, yakni apa yang terus mnenerus ia katakan berhubungan dengan A terhadap dirinya
iC
Rc Irrational Consequences, yaitu konsekuensi-konsekuensi yang tidak layak yang berasal dari (A)
Rational or reasonable Consequences, yakni konsekuensi-konsekuensi rasional atau layak yang dianggap berasal dari rB=keyakinan yang rasional Rational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasional atau layak secara empirik mendukung kejadian-kejadian eksternal (A)
D Dispute irrational beliefs, yakni keyakinan-keyakinan irasional dalam diri individu saling bertentangan (disputing) Validate or invalidate self-verbalization : yakni suatu proses self-verbalization dalam diri individu, apakah valid atau tidak.
CE Cognitive Effect of Disputing,yakni efek kognitif yang terjadi dari pertentangan (dispating) dalam keyakinan-keyakinan irasional.  Change self-verbalization, terjadinya perubahan dalam verbalisasi dari pada individu.
BE Behavioral Effect of Disputing yakni efek dalam perilaku yang terjadi dalam pertentangan dalam keyakinan-keyakinan irasional diatas. Change Behavior, yakni terjadinya perubahan perilaku dalam diri individu

Tujuan konseling Rasional-Emotif
a. Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualizationnya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
b. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti : rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, dan rasa marah. Konselor melatih dan mengajar klien untuk menghadapi kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan, nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.
Albert Ellis (1973) memberikan gambaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh praktisi rasional-emotive yaitu :
a. Mengajak, mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan emosional dan perilaku.
b. Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.
c. Menunjukkan kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.
d. Menggunakan analisis logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional (irrational beliefs) klien.
e. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional ini adalah inoperative dan bahkan hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional.
f. Menggunakan absurdity dan humaor untuk menantang irasionalitas pemikiran klien.
g. Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide irasional ini dapat ditempatkankembali dan disubtitusikan kepada ide-ide rasional yang harus secara empirik melatar belakangi kehidupannya.
h. Mengajarkan kepada klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah, obyektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan menghayati sendiri bahwaide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya kan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.

3. Konseling Behavioral
Tokoh dalam teopri ini antara lain D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Ray E. Hosfor , Bandura, Wolpe. Konsep behavioral mengutrakan perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkresi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.
Thoresen (shertzer & Stone 1980, 188) memberikan ciri-ciri konseling behavioral sebagai berikut :
a. Kebanyakan perilaku manusia dipelajari oleh sebab itu dapat diubah.
b. Perubahan-perubahan khusus terhadap lingkungan individu dapat membantu dalam mengubah perilaku-perilaku yang relevan. Prosedur-prosedur konseling berusaha membawa perubahan-perubahan yang relevan dalam perilaku klien dengan mengubah lingkungan
c. Prinsip-prinsip belajar spesial seperti : “reinforcement” dan “social modeling” , dapat digunakan untuk mengembangkan prosedur-prosedur konseling.
d. Keefektifan konseling dan hasil konseling dinilai dari perubahan dalam perilaku-perilaku khusus diluar wawancara prosedur-prosedur konseling.
e. Prosedurprosedur konseling tidak statik, tetap atau ditentukan sebelumnya, tetapi dapat secara khusus didesain untuk membantu klien dalam memecahkan masalah khusus.
Proses konseling Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 190) konsseling behavior merupakan suatu proses membantu orang untuk memecahkan masalah.interpersonal, emosional dan keputusan tertentu. Urutan pemilihan dan penetapan tujuan dalan konseling yang digambarkan oleh Cormier and Cormier (Corey, 1986, 178) sebagai salah satu bentuk kerja sama antara konselor dan klien sebagai berikut:
a. Konselor menjelaskan maksud dan tujuan.
b. Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling.
c. Klien dan konselor menetapkan tujuan yang telah ditetapkan apakah merupakan perubahan yang dimiliki oleh klien.
d. Bersama-sama menjajaki apakah tujuan itu realistik.
e. Mendiskusikan kemungkinan manfaat tujuan.
f. Mendiskusikan kemungkinan kerugian tujuan.
g. Atas dasar informasi yang diperoleh tentang tujuan klien, konselor dan klien membuat salah satu keputusan berikut : untuk meneruskan konseling atau mempertimbangkan kembali tujuan akan mencari referal.

Metode yang dapat digunakan dalam teori ini adalah :
a. Pendekatan operant learning hal yang penting adalah pengutan (reinfocement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki.
b. Metode Unitative Learning aau social modeling diterapkan oleh konselor dengna merancang suatu perilaku adaptif yang dpaat dijadikan model oleh klien.
c. Metode Cognitive Learning atau pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara konselor dan klien, dan bermain peranan.
d. Metode Emotional Learning, atau pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan.

4. Konseling Psikoanalisa
Tokoh dalam teori ini adalah Sigmund Freud, Carl Jung, Otto Rank, William Reich, Karen Honey, Adler. Harry Stack Sullivan. Konsep Freud yang anti rasionalisme menekankan motivasi tidak sadar, konflik, dan simbolisme sebagai konsep primer. Manusia pada hakekatnya bersifat biologis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif, dan perilaku merupakan fungsi mereaksi secara mendalan terhadap dorongan-dorongan itu. Manusia bersifat tidak rasional dan tidak sosial, dan destruktif terhadap dirinya dan orang lain. Energi psikis yang paling dasar disebut libido yang bersumber dari dorongan seksual yang terarah kepada pencapaian kesenangan.
Tujuan konseling psikoanalitikadalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar dalam diri klien. Proses konselingnya meliputi :
a. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian.
b. Konseling analitik menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidak sadaran.
c. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.
d. Satu karakteristik konseling psikonalisa adalah bahwa terapi atau analisis bersikap anonim (tak dikenal) dan bertindak sangat sedikit menunjukkan perasaan dan pengalamannya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaannya kepada konselor. Proyeksi klien merupakan bahan terapi yang ditafsirkan dan dianalisia.
e. Konselor harus membangun hunbungan kerja sama dengan klien kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan.
f. Menata proses terapeutik yang demikian dalam konteks pemahaman struktur kepribadian dan psikodinamika memungkinkan konselor merumuskan masalah klien secara sesungguhnya. Konselor mengajari klien memaknai proses ini sehingga klien memperoleh tilikan mengenai masalahnya.
g. Klien harus menyanggupi dirinya sendiri untuk melakukan proses terapi dalam jangka panjang. Setiap pertemuan biasa berlangsung satu jam.
h. Setelah beberapa kali pertemuan kemudian klien melakukan kegiatan asosiasi bebas. Yaitu klien mengatakan apa saja ynag terlintas dalam pikirannya.

Teknik-teknik terapi dalam teori ini adalah :
a. Asosiasi bebas
b. Interpretasi
c. Analisis mimpi
d. Analisis Resistensi
e. Analisis transferensi (pemindahan)

5. Konseling Psikologi Individual
Tokoh dalam teori ini adalah Alfred Adler, Rudolph Dreikurs, Martin Son Tesgard, dan Donal Dinkmeyer. Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas (kurang harga diri). Istilah yang digunakan oleh Adler adalah “inferiority complex” untuk menggambarkan keadaan perasaan harga diri kurang yang selalu mendorong individu untuk melakukan kompensasi mencapai keunggulan. Perilaku merupakan suatu upaya untuk mencapai keseimbangan.
Kompleks rasa rendah diri (inferiority complex) menurut Adler berasal dari tiga sumber :
a. Kekurangan dalam hal fisik
b. Anak yang dimanja
c. Anak yang mendapat penolakan

Tujuan konseling menurut Adler adalah mengurangi intensitas perasaan rasa rendah diri (inferior), memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam persepsi, menetapkan tujuan hidup, mengembangkan kasih sayang terhadap orang lain, dan meningkatkan kegiatan. Menurut Ansbacher & Anbacher (Shertzer & Stone, 1980, 204) ada tiga komponen pokok dalam proses konseling :
a. Memperoleh pemahaman gaya hidup klein yang spesifik, gejala dan masalahnya, melalui empati, intuisi dan penaksiran konselor. Dalam unsur ini konselor membentuk hipotesis mengenai gaya hidup dan situasi klien.
b. Proses menjelaskan kepada klien, dalam komponen ini hipotesis gaya hidup yang dikembangkan dalam komponen pertama harus ditafsirkan dan dikomunikasikan dengan klien sehingga dapat diterima. Psikologi individual menekankan pentingnya membantu klien untuk memperoleh tilikan terhadap kondisinya.
c. Proses memperkuat minat sosial, klien dengan menghadapkan mereka, secara seimbang, dan menunjukkan minat dan kepedulian mereka.

6. Konseling Analisis Transaksional
Tokoh dalam teori ini adalah Eric Berne, pioner yang menerapkan analisa transaksional dalam psikoterapi. Dalam terapi ini hubungan konselor dan klien dipandang sebgai suatu transaksional (interaksi, tindakan yang diambil, tanya jawab) dimana masing0masing partisipan berhubungan satu sama lain. Sebagai fungsi tujuan tertentu. Transaksi menurut Berne merupakan manivestasi hubungan sosial. Berne membagi psikoterapi konvensional menjadi dua kelompok
a. Kelompok yangh melibatkan sugesti, dukungan kembali (reassurence), dan fungsi parental lain.
b. Kelompok yang melibatkan pendekatan rasional, dengan menggunakan konfrontasi dan interpretasi seperti terapi non direktif dan psiko analisa.

Tugas utama konselor yang menggunakan analisis transaksional adalah mengajar bahasa dan ide-ide sistem untuk mendiagnosa transaksi. Konselor transaksional selalu aktif, menghindarkan keadaan diam yang terlalu lama, dan mempunyai tanggung jawab untuk memelihara perhatian pada transaksi.

Tujuan konseling adalah :
a. Membantu klien dalam memprogram pribadinya.
b. Klien dibantu untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain, dan menjadi orang mandiri dalam memilih apa yang mereka inginkan.
c. Klien dibantu mengkaji keputusan yang telah dibuat dan membuat keputusan baru atas dasar kesadaran.
d. Teknik-teknik daftar cek, analisis script atau kuisioner digunakan untuk mengenal keputusan yang telah dibuat sebelumnya.
e. Klien berpartisipasi aktif dalam diagnosis dan diajar untuk membuat tafsiran dan pertimbangan nilai sendiri.
f. Teknik konfrontasi juga dapat digunakan dalam analisis transaksional dan pengajuan pertanyaan merupakan pendeatan dasar.
g. untuk berlangsungnya konseling kontrak antara konselor dan klien sangat diperlukan.

7. Konseling Client Centered (Berpusat Pada Klien)
Tokoh dalam teori ini adalah Carl R. Roger, menurut Roger Konseling dan Psikoterapi tidak mempunyai perbedaan. Konseling yang berpusat pada klien sebagai konsep dan alat baru dalam terapi yang dapat diterapkan pada orang dewasa, remaja, dan anak-anak.
Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian,dan hakekat kecemasan. Menurut Roger konsep inti konseling berpusat pada klien adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau pertumbuhan perwujudan diri.

Proses konseling dalam teori ini antara lain :
a. Konseling memusatkan pada pengalaman individual.
b. konseling berupaya meminimalisir rasa diri terancam, dan memaksimalkan dan serta menopang eksplorasi diri. Perubahan perilaku datang melalui pemanfaatan potensi individu untuk menilai pengalamannya, membuatnya untuk memperjelas dan mendapat tilikan pearasaan yang mengarah pada pertumbuhan.
c. Melalui penerimaan terhadap klien, konselor membantu untuk menyatakan, mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelunya ke dalam konsep diri.
d. dengan redefinisi, pengalaman, individu mencapai penerimaan diri dan menerima orang lain dan menjadi orang yang berkembang penuh.
e. Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik.

Karakteristik konseling berpusat pada klien adalah :
a. Fokus utama adalah kemampuan individu memecahkan masalah bukan terpecahnya masalah.
b. Lebih mengutamakan sasaran perasaan dari pada intelek.
c. Masa kini lebih banyak diperhatikan dari pada masa lalu.
d. Pertumbuhan emosional terjadi dalam hubungan konseling.
e. Proses terapi merupakan penyerasian antara gambaran diri klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya.
f. Hubungan konselor dan klien merupakan situasi pengalaman terapeutik yang berkembang menuju kepada kepribadian klien yang integral dan mandiri.
g. Klien memegang peranan aktif dalam konseling sedangkan konselor bersifat pasif reflektif.

8. Konseling / Terapi Gestalt
Teori ini dikembangkan oleh Frederick S. Peris 1989-1970) terapi ini dikembangkan dari sumber dan pengaruh tiga disiplin yang sangat berbeda yaitu :
a. Psikoanalisis terutama yang dikembangkan oleh Wilhelm Reih
b. Fenomenolohi eksistensialisme Eropa dan
c. Psikologi Gestalt
Peris menyatakan bahwa individu, dalam hal ini manusia, selalu aktif sebagai keseluruhan, merupakan koordinasi dari seluruh organ. Kesehatan merupakan keseimbangan yang layak. Pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis merupakan konsep dasar terapi Gestaslt.
Tujuan utama konseling Gestalt adalah meningkatkan proses pertumbuhan klien dan membantu klien mengembangkan potensi manusiawinya. Fokus utama dalam konseing Gestalt adalah membantu individu melalui transisinya dari keadaan yang selalu dibantu oleh lingkungan ke keadaan mandiri (selft-support). Konselor membuat klien menjadi kecewa sehingga klien dipaksa untuk menemukan caranya atau mengembangkan potensinya sendiri.

Konsep utama terapi Peris adalah
a. Unfinished business yang tercakup didalamnya adalah emisi-emosi, peristiwa-peristiwa, ingatan-ingatan (memories), yang terhambat dinyatakan oleh individu yang bersangkutan.
b. Avoidance atau penghindaran adalah segala cara yang digunakan oleh seseorang untuk melarikan diri dari Unfinished business. Bentuk-bentuk avoidance antara lain phobia, melarikan diri, mengganti terapist, mengubah pasangan.

Garis-garis besar terapi Gestalt
a. Fase pertama : membentuk pola pertemuan terapeutik agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Situasi mengandung komponen emosional dan intuitif.
b. Fase kedua : melaksanakan pengawasan , konselor berusaha meyakinkan atau memaksa klien mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan keadaan klien. Dua hal yang harus dilakukan :
1) Menimbulkan motivasi pada klien.
2) Menciptakan rapport yaitu hubungan baik antara konselor dan klien agar timbul rasa percaya klien bahwa segala usaha konselor itu disadari benar oleh klien untuk kepentingannya.
c.  Fase ketiga : klien didorong untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada pertemuan-pertemuan terapi saat ini, bukan menceritakan masa lalu atau harapan-harapan masa datang.
d. Fase terakhir : setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang dirinya, tindakannya, perasaannya, maka terapi ada pada fase terakhir. Pada fase ini klien harus memiliki ciri-ciri yang menunjukan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Klien harus memiliki kepercayaan pada potensinya. Menyadari diriny, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya, perbuatannya, perasaan-perasaannya, pikiran-pikirannya.

9. Reality Therapy
Tokoh dalam teori ini adalah William Glasser. Glaser mengikuti latihan psikiatri pada Veterans Administration Center di Los Angeles Barat, melewatkan tahun terakhirnya di University of California di Los Angeles pada tahun 1957, dan menggondol sertifikat pada tahun 1961.
Selama masa latihan Glasser menjadi sadar bahwa ada perbedaan besar antara apa yang diajarkan dengan apa yang diperkirakan olehnya dapat dilakukan. Perbedaannya terpusat pada dua titik penting:
1) daripada sikap menjauhkan diri dan terpisah, dia berpendapat bahwa hasil akhir yang baik nampaknya akan bisa dicapai dengan keterlibatan yang hangat didasari oleh minat pribadi dan satu pengungkapan diri,
2) daripada menjadi korban dari impulsnya sendiri atau yang berasal dari luar dirinya, menurut pendapatnya yang sebenarnya terjadi adalah bahwa klien nampaknya memilih apa yang mereka lakukan untuk kehidupannya; mereka tidak pernah menjadi korban seumur hidup kecuali memang mereka memilih untuk menjadi seperti itu.
Glasser enggan untuk mengutarakan ketidakpuasannya terhadap terapi psikoanalitik sampai ia berjumpa dengan G.L. Harington, yang dianggapnya memberikan andil yang besar dengan memberikan sumbangan atas terciptanya ide-ide yang dibuatnya.
Pada tahun 1956 Glasser menjabat sebagai psikiatris pembimbing pada Sekolah Putri Perawatan Anak Nakal di Ventura California. Pengalaman ini lebih menebalkan lagi keyakinannya betapa teknik dan konsep psikoanalitik itu tidak banyak manfaatnya, karena itu Glasser mengembangkan pendekatan terapeutik yang berbeda yang pada banyak seginya sangat berlawanan dengan psikoanalisis gaya Freud.
Pada tahun 1961 Glasser menerbitkan bukunya yang pertama, Mental Health or Mental illiness yang memberi landasan pada terapi realitas. Menjelang tahun 1965, pada waktu ia menerbitkan bukunya Terapi Realitas, dia mampu menyatakan keyakinan dasarnya, yaitu bahwa kita semua bertanggungjawab atas pilihan yang kita ambil untuk kemudian kita lakukan dalam hidup ini dan bahwa dalam lingkungan terapeutik yang hangat dan tidak bernada hukuman kita bersedia untuk belajar lebih banyak lagi untuk menentukan pilihan yang lebih efektif, atau cara yang lebih bertanggungjawab terhadap kehidupan kita ini.
Konsep Kunci dalam teori realitas
1. Teori Kontrol bertumpu pada asumsi bahwa perilaku manusia adalah bertujuan dan berasal dari dalam diri individu dan bukan dari kekuatan luar, meskipun kekuatan luar memiliki pengaruh pada keputusan yang diambil tetapi perilaku tidak disebabkan oleh faktor lingkungan.
2. Perilaku manusia digerakkan untuk memenuhi kebutuhan, kebutuhan fisiologis maupun kebutuhan psikologis. Kebutuhan fisiologis untuk bertahan hidup sedangkan kebutuhan psikologis untuk memiliki, berkuasa, kebebasan, kesenangan.
3. Otak sebagai sistem kontrol untuk menolong kita memenuhi keinginan.
4. Manusia memenuhi kebutuhan itu dengan berbagai cara, mengembangkan suatu “album gambar bathin” dari keinginan yang khas, yang berisi gambar yang tepat tentang bagaimana manusia sebaiknya bisa memenuhi kebutuhan.
5. Sasaran utama terapi realitas adalah mengajar orang cara yang lebih baik dan lebih efektif untuk mendapatkan apa yang yang mereka inginkan dalam hidup ini.
6. Terapis memahami bahwa klien hidup dalam dunia eksternal tetapi selalu berusaha untuk mengontrolnya sehingga menjadi sedekat mungkin dengan dunia internal.
7. Teori kontrol menantang falsafah deterministik dari kodrat manusia.
8. Melalui praktek terapi realitas orang belajar caranya mendapatkan kebebasan sehingga orang lain tidak menderita dalam proses itu.

Ciri-ciri Terapi Realitas
a. Penolakan terhadap model medis.
b. Identitas sukses dan keterkaitan yang positif.
c. Penekanan pada tanggungjawab.
d. Tidak menekankan pada transferensi.

Praktek dari Terapi Realitas
Konseptualisasi yang paling baik untuk terapi realitas adalah sebagai cycle of counceling yang terdiri dari dua komponen utama :
(1) lingkungan konseling dan
(2) prosedur spesifik yang membawa ke perubahan perilaku.
Seni konseling adalah menjalin komponen itu menjadi satu jalinan yang membimbing klien untuk mengevaluasi hidup mereka dan menetapkan untuk bergerak ke arah yang lebih efektif. Prosesnya bergerak maju melalui eksplorasi keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan persepsinya. Klien kemudian mengeksplorasi perilaku total mereka dan membuat evaluasi sendiri tentang keefektifan perilakunya dalam usaha mendapatkan apa yang dikehendaki. Apabila klien memutuskan untuk mencoba perilaku baru, harus membuat rencana yang membawa ke perubahan dan harus komitmen dengan rencananya.

10. Terapi eksistensial
Tokoh:
1)  Victor Frankl 1905-1997
     Pandangan Frankl
a. “dia yang punya alasan kenapa harus hidup bisa hidup dengan apapun,( – Nietzsche quoted by Frankl, 1963)
b. “apa yang tidak membunuhku, membuatku semakin kuat.( -Nietzsche quoted by Frankl, 1963)
c. modern mempunyai banyak cara untuk hidup tapi seringnya tidak punya makna hidup, sehingga keberadaan waktunya seperti tidak berguna, atau”kekosongan yang nyata”
d. Tujuan dari terapi adalah menantang manusia untuk menemukan makna dan tujuan hidup melalui penderitaan, pekerjaan dan cinta.
2) Z. Rollo May 1909-1994
Pandangan May
a. Perlu keberanian untuk menentukan kita ingin menjadi manusia seperti apa.
b. Perjuangan yang tetap pada manusia:
- Ingin dewasa dan juga mandiri
- Tetapi menyadari bahwa proses perkembangan dan kedewasaan merupakan proses yang menyakitkan.
c. Jadi perjuangan adalah keamanan dari ketergantungan dan juga sakit dari perkembangan.

Dasar terapi eksistensial
Falsafat Eksistensial Sebagai Dasar Terapi Eksistensial
a. Area filosofi yang berhubungan dengan makna keberadaan
b. Menanyakan pertanyaan- pertanyaan tentang masalah- masalah cinta, kematian, dan juga makna hidup.
c. Bagaimana seseorang berhubunga dengan nilai dan makna hidup seseorang.
d. dunia berubah sesuai pemikiran orang yang berubah.
e. Ide- ide tentang dunia = pembangunan manusia “berada di dunia” = seseorang tidak bisa berada di dunia tanpa sebuah dunia dan sebuah dunia tidak bisa ada tanpa seseorang(makhluk) untuk menyadarinya.
f. Harus belajar tentang manusia- manusia dalam dunia mereka.
g. Jangan memikirkan pertanyaan- pertanyaan tentang kenapa.
h. Mereka memikirkan tentang pernyataan-pernyataan.
i. Mereka tidak mengabaikan atau menjelaskan masalah- masalah manusia seperti etika-etika atau moral.
j. Mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri tentang konflik dari pemilihan etika-etika atau moral tapi lebih menerimanya sebagai bagian penting dari manusia- manusia untuk begitu. Jangan memikirkan pertanyaanpertanyaan tentang kenapa.
k. Mereka memikirkan tentang pernyataan-pernyataan.
l. Mereka tidak mengabaikan atau menjelaskan masalah- masalah manusia seperti etika-etika atau moral.
m. Mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri tentang konflik dari pemilihan etika-etika atau moral tapi lebih menerimanya sebagai bagian penting dari manusia- manusia untuk begitu.

Tujuan terapi eksistensial
a) Menolak hasil deterministik pada ciptaan manusia.
b) Orang- orang bebas dan bertanggung jawab untuk tiap pilihan dan tindakan mereka.
c) Orang- orang adalah pengarang untuk hidup mereka.
d) Terapi eksistensial membuat klien merefleksi pada hidup, mengenali adanya banyak pilihan, dan menentukan antara pilihan- pilihan itu.
e) tujuan: mengenali cara- cara yang mereka terima secara pasif dalam lingkungan mereka dan menyerah, sehingga diperlukan kesadaran untuk membentuk hidup yang dimiliki untuk menggali potensi- potensi agar hidup lebih bermakna.

Tugas terapis eksistensial
(1) Mengundang klien untuk bagaimana mereka mengijinkan orang lain memutuskan untuk diri mereka
(2) Mengajak klien untuk melangkah maju secara otonomi.
(3) “meskipun sekarang anda mempunyai pola yang anda lakukan, apakah anda mau membuat pola yang baru?”

Prosedur dan tehnik terapi
Ada tiga tahap proses konseling yaitu
1. Konselor membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka tentang dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menayakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima. Mereka meneliti nilai mereka, keyakinan, serta asumsi untuk menentukan kesahihannya. Bagi banayk kien hal ini bukan pekerjaan yang mudah, oleh karena itu walnya mereka memaparkan problema mereka. Konselor disini mengajarkan mereka bagaimana caranya untuk bercermin pada eksistensi mereka sendiri dan meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup
2. Klien didorong semangatnya untuk lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari sistem nilai mereka. Proses eksplorasi diri ini biasanya membawa klien ke pemahaman baru dan berapa restrukturisasi dari nilai dan sikap mereka. Klien mendapat cita rasa yang lebih baik akan jenis kehidupan macam apa yang mereka anggap pantas. Mereka mengembangkan gagasan yang jelas tentang proses pemberian niali internal mereka.
3. Konseling eksistensial berfokus pada menolong klien untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi adalah memungkinkan klien untuk bisa mencari cara pengaplikasikan niali hasil penelitian dan internalisasi denagn jalan kongkrit. Biasanya klien menemukan jalan mereka untuk menggunakan kekuatan itu demi menjalani kesistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.

3) TEORI EKSISTENSIAL – HUMANISTIK MOSLOW
a) Teori Humanistik Abraham Moslow Karena pembahasan mengenai teori kepribadian humanistik ini direpresentasikan oleh teori kepribadian Maslow, maka ajaran dasar psikologi humanistik yang akan dibahas sebagian besar berasal dari Maslow.
1. Individu sebagai keseluruhan yang intergral
Salah satu aspek yang fundamental dari psikologi humanistik adalah bahwa manusia atau individu harus dipelajari sebagai keseluruhan yang integral, khas dan terorganisasi. Teori Maslow dikembangkan sebagai perlawanan terhadap teori-teori yang menerangkan tingkah laku secara elementalististik dengan kata lain Maslow mengembangkan teorinya dengan bertumpu pada prinsip holistik, suatu prinsip yang berasal dari psikologi gestalt. Prinsip holistik Maslow yaitu motivasi mempengaruhi individu secara keseluruhan dan bukan secara bagian: “Dalam teori yang baik tidak ada yang namanya kebutuhan perut, mulut atau kebutuhan alat kelamin. Yang ada adalah kebutuhan individu. Yang membutuhkan makanan itu bukan perut John Smith, melainkan John Smith. Kepuasan dirasakan oleh individu bukan oleh sebagian individu. Makanan memuaskan John Smith, bukan memuaskan perut John Smith (E. Koswara, 1991:115:116)
2. Ketidakrelevanan penyidikan dengan hewan
Ahli psikologi Humanistik mengingatkan tentang adanya perbedaan yang mendasar antara tingkah laku manusia dengan hewan. Maslow dan para teoris kepribadian humanistik umumnya memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan hewan apapun. Maslow menegaskan bahwa penyelidikan hewan tidak relevan bagi memahami tingkah laku manusia karena hal itu mengabaikan ciri-ciri yang khas manusia seperti adanya gagasan-gagasan, nilai-nilai, rasa malu, cinta, semangat, humor, rasa seni, kecemburuan, dsb, yang kesemua ciri yang dimilikinya itu manusia bila menciptakan pengetahuan puisi, musik dan pekerjaan-pekerjaan khas manusia lainnya.
3. Pembawaan baik Manusia
Teori Freud secara implisit menganggap bahwa manusia pada dasanya memiliki karakter jahat implus manusia, apabila tidak dikendalikan akan menjuruskan manusia kepada pembinasaan sesamanya dan juga menghancurkan dirinya sendiri. Sementara pandangan ini menurut Maslow hanya memiliki sedikit kepercayaan tentang kemuliaan manusia, dan berspekulasi secara pesimis tentang nasib manusia. Seblaiknya, psikologi humanistik memiliki anggapan bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik atau tepatnya netral menurut perspektif humanistik kekuatan jahat akan merusak yang ada pada manusia itu adalah hasil dari lingkungan yang buruk dan bukan merupakan bawaan.
4. Potensi Kreatif Manusia
Maslow, dari studinya atas sejumlah orang, menemukan bahwa orang–orang yag ditelitinya itu terdapat satu ciri yang umum yaitu kreatif. Kemudian Maslow menyimpulkan bahwa potensi kreatif merupakan potensi yang umum pada manusia.
5. Penekanan pada Kesehatan Psikologis
Maslow beranggapan bahwa tidak ada satupun pendekatan psikologis yang mempelajari manusia denga bertumpu pada fungsi-fungsi manusia dengan cara dan tujuan hidup yang sehat. Maslow menyebut teori psikoanalisa ortodoks sebagai teori yang berat sebelah dan kurang komperhensif karena hanya berlandaskan pada bagian yang abnormal dari tingkah laku manusia. Maslow merasa bahwa psikologi terlalu menekankan pada sisi negatif manusia dan mengabaikan kekuatan atau sifat-sifat yang positif dan manusia. Maslow yakin bahwa kita tidak bisa memahami gangguan mental sebelum kita memahami kesehatan mental.
b) Teori Kebutuhan Bertingkat
Kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat yang dirinci dalam lima tingkatan kebutuhan, yakni:
1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki
4. Kebutuhan akan rasa harga diri
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri


C. Konselor
1. Konselor dan Konselor Pendidikan
Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam melakukan konseling. Konselor bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tapi juga merambah pada bidang industri dan organisasi, penanganan korban bencana, dan konseling secara umum di masyarakat.
Khusus bagi konselor pendidikan yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan (sering disebut Guru BP/BK atau Guru Pembimbing), ia tidak diwajibkan mempunyai sertifikat terlebih dulu. Konselor pendidikan adalah konselor yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan. Konselor pendidikan merupakan salah satu profesi yang termasuk ke dalam tenaga kependidikan seperti yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun Undang-undang tentang Guru dan Dosen.
Konselor pendidikan semula disebut sebagai Guru Bimbingan Penyuluhan (Guru BP). Seiring dengan perubahan istilah penyuluhan menjadi konseling, namanya berubah menjadi Guru Bimbingan Konseling (Guru BK). Untuk menyesuaikan kedudukannya dengan guru lain, kemudian disebut pula sebagai Guru Pembimbing.
Setelah terbentuknya organisasi profesi yang mewadahi para konselor, yaitu Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN), maka profesi ini sekarang dipanggil Konselor Pendidikan dan menjadi bagian dari asosiasi tersebut.

2. Latar belakang diperlukannya konselor pendidikan adalah :
a) Kehidupan demokrasi: Guru tidak lagi menjadi pusat dan siswa tidak hanya menjadi peserta pasif dalam kegiatan pendidikan. Guru hanya membantu siswa untuk dapat mengambil keputusannya sendiri.
b) Perbedaan individual: Pembelajaran yang umumnya dilakukan secara klasikal kurang memperhatikan perbedaan siswa dalam kemampuan dan cara belajarnya sehingga beberapa siswa mungkin akan mengalami kesulitan.
c) Perkembangan norma hidup: Masyarakat berubah secara dinamis. Demikian pula dengan berbagai norma hidup yang ada di dalamnya. Setiap orang harus bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan tersebut.
d) Masa perkembangan: Seorang individu mengalami perkembangan dalam berbagai aspek dalam dirinya dan perubahan tuntutan lingkungan terhadap dirinya. Diperlukan penyesuaian diri untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut.
e) Perkembangan industri: Seiring dengan perkembangan teknologi yang cepat, industri juga berkembang dengan pesat. Untuk memiliki karier yang baik, siswa harus bisa mengantisipasi keadaan tersebut.

3. Tugas konselor sekolah
Tugas konselor sekolah adalah mengenal siswa dengan berbagai karakteristiknya, melaksanakan konseling perorangan, bimbingan dan konseling kelompok, melaksanakan bimbingan karir termasuk informasi  pendidikan dan karir, penempatan, tindak lanjut dan penilaian, konsultasi dengan konselor, semua personil sekolah, orang tua, siswa. Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:
a. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
b. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
c. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
d. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
Selanjutnya Prayitno, dkk (1997:117-140) mengemukakan tugas konselor sekolah, sebagai berikut:
a. memasyarakatkan pelayanan  bimbingan dan  konseling
b.  merencanakan program bimbingan dan konseling terutama program-program satuan layanan dan satuan kegiatan pendukung untuk satuan-satuan waktu tertentu, program-program tesebut dikemas dalam program harian, mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan
c. melaksanakan segenap satuan layanan bimbingan dan konseling
d.  melaksanakan segenap progam satuan kegiatan pendukung  bimbingan dan konseling
e.  menilai proses dan hasil pelaksanaan satuan layanan dan kegiatan pendukung
f.  menganalisis hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan  konseling,
g. melaksanakan tindak lanjut berdasarkan  hasil penilaian layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan  konseling
h. mengadministrasikan kegiatan satuan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakan
i. mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluruh kepada koordinator bimbingan dan  konseling  dan kepala sekolah.

 Secara umum tugas konselor sekolah adalah bertanggung jawab  untuk membimbing peserta didik secara individual sehingga memiliki kepribadian yang matang dan mengenal potensi dirinya secara menyeluruh. Dengan demikian diharapkan siswa tersebut mampu membuat keputusan terbaik untuk dirinya, baik dalam memecahkan masalah mereka sendiri maupun dalam menetapkan karir mereka dimasa yang akan datang ketika individu tersebut terjun di masyarakat.























BAB III
KESIMPULAN


Konseling merupakan suatu proses untuk memebantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi)Konseling mencakup bekerja dengan banyak orang dan hubungan yang mungkin saja bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah. Tugas konseling adalah memberikan kesempatan pada klient untuk mengeksplorasi, menemukan, dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam menghadapi sesuatu (BAC: 1984) .
Teori-teori konseling yaitu:
1. Konseling Trait & Factor
2. Konseling Rational Emotive
3. Konseling Behavioral
4. Konseling Psikoanalisa
5. Konseling Psikologi Individual
6. Konseling Analisis Transaksional
7. Konseling Client Centered (Berpusat Pada Klien)
8. Konseling / Terapi Gestalt
9. Reality Therapy
10. Terapi eksistensial
Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam melakukan konseling. Konselor bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tapi juga merambah pada bidang industri dan organisasi, penanganan korban bencana, dan konseling secara umum di masyarakat.
Tugas guru bimbingan dan konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:
a. Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat.
b. Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan dan bermartabat.
c. Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/madrasah secara mandiri.
d. Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir




DAFTAR PUSTAKA



McLeod, John.2006.Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus.Jakarta:Fajar Interpratama Offset.
http://eko13.wordpress.com/2008/03/18/ciri-ciri-teori-konseling/
http://waskitamandiribk.wordpress.com/2010/04/01/teori-teori-konseling/
http://waskitamandiribk.wordpress.com


Postingan terkait: